Selasa, 14 Agustus 2018

Pelaku Utama dan Penyederhana Diksi

Seperti legenda kebanyakan, maka ini adalah sebuah cerita asal-usul yang ingin saya tuliskan 
Orang-orang terdekat mengenal saya dengan OS. Selain merupakan singkatan dari Onixtin Sianturi, OS memiliki arti Operating System. Memilih inisial OS tentu dengan alasan.

Diambil dari wikipedia, OS atau sistem operasi (dalam bahasa) berarti perangkat lunak sistem yang mengatur sumber daya dari perangkat keras dan perangkat lunak untuk program komputer. Tanpa sistem operasi, pengguna tidak dapat menjalankan program aplikasi pada komputer, kecuali program booting.

Sederhananya, Operating System (OS) adalah pelaku utama dalam program aplikasi.
Begitu pula dengan Onixtin Sianturi (OS) yang juga ingin menjadi pelaku utama dalam cerita perjalanan hidupnya sendiri.

Saya selalu butuh ruang untuk menuangkan imajinasi, perspektif, atau opini, tanpa diatur dan mengikuti aturan manapun. Maka terbentuklah sebuah rumah bernama onix-octarina.blogspot.co.id tahun 2013 dengan halamannya yang usang dan penuh rumput bahkan hingga kini ketika namanya pun sudah berubah menjadi onixoctarina.com. Blog ini masih sama, tidak terurus namun penghuni di dalamnya tetap ada. Tidak peduli apakah ada tamu yang berkunjung secara cuma-cuma lalu pergi atau ada pembaca setia tanpa diminta, blog ini selalu menjadi rumah bagi saya. Ia menjadi tempat bercerita, penerima sukacita, sekaligus pengawas rutinitas seperti peliput berita. Ia mau menjadi pendengar keluh kesah tanpa menghakimi seperti orang-orang di luar sana, hingga tidak enggan saya menyebutnya sebagai pulang. 
Ada 3 tajuk yang paling sering saya bahas di rumah ini: heart talks, weekend escape, dan writing competition.

Writing competition saya pilih menjadi halaman depan dan teras. Lebih banyak mengulas sesuatu dengan tema tertentu yang diadakan oleh pihak manapun. Dengan alasan supaya produktif, maka halaman ini sengaja saya buat. Selama bisa diikutkan, kenapa tidak dicoba? Karena saya percaya kata Ariev Rahman, teruslah menulis sampai kau tidak tau kemana tulisan itu akan membawamu. Memang tidak satu-dua-tiga kali saya memperoleh hasil dari tulisan-tulisan itu. Namun ada yang paling saya ingat, untuk kali pertama, saya menginjakkan kaki di Labuan Bajo karena sebuah tulisan dan candu setelahnya.

Memasuki lebih dalam, Weekend escape adalah ruang tamu. Kalau beruntung, siapapun pembacanya juga bisa tiba di ruang keluarga. Ini adalah tempat saya bercerita dikala membutuhkan ruang untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kota dan kebisingan sosial. Selalu tentang perjalanan, akhir pekan rasanya menjadi waktu yang pas untuk menemukan hal baru dan berhenti dari rutinitas senin sampai jumat. Maka saya menamainya Weekend escape, biar ada kesempatan untuk menepi dari istilah harus begitu dan begini. Ini juga adalah cerita pertama kali saya keluar dari zona nyaman.

Sedangkan Heart talks adalah tempat yang saya anggap sebagai ruang kamar. Corat-coret dalam hidup saya yang tentu tidak setiap saat mujur, tapi selalu terselip kata bahagia walau kecil porsinya. Heart talks adalah saat-saat saya membuat pernyataan yang mengalir begitu saja, biasanya tulisan-tulisan semacam ini memiliki energi tertentu. Jika sedang kalut, maka rasa dalam tulisan itu juga demikian. Jika mengalami ketakutan tidak beralasan, kejenuhan juga penat, rasa bersalah yang hebat, kecewa dan sedih yang melebur bersama atau bahagia yang sederhana, maka bisa dipastikan itu ditulis di atas kejujuran. Bisa sedang menangis, bangga, atau malah marah saat menuturkannya. Bahkan ketika dibaca berulang besok, lusa, dan besoknya lagi, atau tahun depan, saya masih bisa merasakan kalau energi itu nyata.

Dengan mengandalkan ‘kata-kata’, sebagian besar kalimat dalam kamar saya adalah diksi yang disederhanakan. Saya ingin agar orang-orang mengetahui bahwa menuliskan sesuatu dengan diksi tidak selalu karena galau. Saya ingin agar orang-orang bisa menikmati diksi tanpa harus mendayu-dayu hingga tidak mengerti apa artinya. Saya ingin mengelola emosi dengan cara mengumpulkan kosakata. Saya juga ingin memilihkan kata yang tepat untuk mewakili sebuah gagasan atau kondisi. 

Meski ‘bebas’, saya tidak berbuat ‘semau’ saya. Namun tetap berkiblat pada KBBI dan EYD. Karena hidup bebas itu diperbolehkan dan dibutuhkan, tapi tidak asal-asalan. Hal kecil seperti salah ketik atau membedakan ‘Di’ sebagai preposisi dan ‘Di’ untuk prefiks saja disepelekan, apalagi ingin memahami yang lebih rumit semacam apa yang aku mau dan apa yang kau mau? (Fiersa Besari).
Tapi-tapi, kalau kalian menemukan kesalahan itu, tolong cepat beritahu saya! Hahaha!

Ketika menulis di 3 ruang dalam rumah ini, saya selalu butuh ruang sendiri untuk menata atau membiarkannya berantakan, dengan melepas jam tangan dan tanpa menyetel lagu. Saat-saat sedang mendung, senja, dini hari, atau di ruangan sepi, adalah waktu yang pas agar saya bisa bebas berkata apapun dan melihat jari ini saling beradu di keyboard laptop.
Maaf, suka tidak suka dengan tulisan yang terbaca, tidak menjadi urusan saya. Karena saya menulis bukan untuk orang lain, tapi diri sendiri. Ketika begitu banyak suara berseliweran yang harus didengarkan, saya memilih menuliskannya.

Meski sering kali menuliskan banyak hal dalam blog ini, tapi ketahui saja, pembaca hanya mengetahui 1% dari hidup saya. 99% lainnya kemana? Ada di dapur. Masih saya sekat sebagai kehidupan pribadi yang tidak perlu diumbar pada orang lain. Alasan utamanya adalah karena saya introvert. Bukan, bukan artinya tertutup atau pemalu, tapi saya lebih memilih menceritakan lebih detail pada orang-orang terdekat dan bisa saya percaya. Memang sudah saya anggap sebagai rumah, namun blog ini masih konsumsi publik, maka tolong pahami. 
Jadi, jika yang kalian baca rasanya seperti mengenal saya, maka itu hanya 1%nya saja. Tidak mengapa, 1 adalah angka pelengkap dari 99 lainnya yang sering kali berguna untuk menyempurnakan.  

Saya memang tidak mengundang tamu untuk berkunjung, jadi jika ada komentar di kolom itu rasanya adalah yang paling bahagia. Jika ingin berkomentar silakan, namun jika hanya ingin menjadi pembaca saja juga tidak masalah. Saya tidak memaksa, toh kalian tidak pernah menuntut agar rumah yang halamannya masih banyak rumput liar ini dibersihkan secepatnya. HAHAHA.



Salam,
OS (sang pelaku utama dan si penyederhana diksi)





19 komentar:

  1. Benar, kak Operasi System eh"* kak Onixtin Sianturi ..., menulis entah di artikel atau sosmed wajib ada ruang pribadi yang tidak diumbar di khalayak.
    Cukup tersimpan untuk diri kita sendiri.

    Penggunaan EYD untuk menulis artikel, aku juga sependapat.
    Ngga asal nulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHAHA!
      Terima kasih telah membaca mas Himawan. Terima kasih juga untuk kunjungan dan pendapatnya :)

      Hapus
    2. Kalau saya lebih terkenalnya dengan nama DjB, bukan Bank Jawa Barat ya?
      Ada saran nih, ukuran huruf fontnya diperbesar dikit, biar mata lebih nyaman.

      Hapus
  2. Waw parahraf demi paragraf aku baca, sepertinya kak Octarina ini gaya tulisannya bagus banget ya. Aku pribadi aja sampe sekarang masih labil, nemuin gaya penulisan aku sendiri.
    Well, from now, i'm your fan :)

    Fajarwalker.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Fajar! :)
      Aku juga belum bisa bilang sudah menemukan gaya penulisan sendiri, tapi sedang mencoba konsistensi pada satu style yang bikin nyaman pas lagi menuliskannya.

      You must try it!

      Hapus
    2. Cieee .. cieee ...
      Mantaap 😁
      Kak Onix punya fans baru nih ..., mas Fajar.

      Aku juga ngefans loh sama gaya penulisan kak Operation System, Onixtin Sianturi.

      Hapus
  3. Penuh filosif, Mbak. Mulai dari nama panggilan hingga serba-serbi di blog.

    BalasHapus
  4. Suatu kehormatan seorang anak muda nan cerdas mampir ke blog saya.
    Hadirnya sekaligus memotivasi diri saya supaya bisa menghasilkan anak muda yang juga sama cerdasnya seperti dirimu adinda OS.
    Kesan pertama saat meninggalkan jejak di karakabu.com. tidak ada istimewa biasa saja. Namun sudah menjadi suatu adab ketimuran jika silaturahmi itu berbalas.
    Lantas kumulai langkah dan mengunjungi blog ini. Seperti biasa sebelum menjelajahi isi blog saya harus pastikan siapa di balik layar blog ini. Saat membuka dan menelusuri barisan aksara itu, saya harus katakan “orang ini cerdas dan ilektual”.
    Tengok saja pernyataan ini ‘Meski ‘bebas’, saya tidak berbuat ‘semau’ saya. Namun tetap berkiblat pada KBBI dan EYD. Karena hidup bebas itu diperbolehkan dan dibutuhkan, tapi tidak asal-asalan’. Ini bukan reflektif teologis apalagi filsafat tingkat tinggi. Namun saya menyebutnya sebagai suatu bentuk kesadaran dan kontrol diri. Saya kagum anak muda. Teruslah menggoreskan aksara agar menjadi bekal untuk generasi sesudahnya. Salam damai.

    BalasHapus
  5. Kalau saya dalam menulis penunjuk kata pelaku utama menggunakan kata saya dan aku, Walau sebenarnya itu bukan menceritakan sesungguhnya tentang kehidupan admin. Biar memudahkan pembaca saja dalam memaknai berita.
    Saya juga suka dan hoby menulis, tapi tetap ada batasan mana yang harus diceritakan dan mana yang harus simpan.
    Saoal tata bahasa, aduh saya kok malu sendiri, kacau balau deh. Mirip gaya upin dan ipin yang terbolak-balik. Tapi herannya kok ada pembaca yang terbawa emosi dan marah-marah sampai kirim pesan ke WA, lucu juga ya? sebenarnya kalau saya membaca ulang artikel saya, saya sendiri tidak paham, bahkan pusing sendiri.

    BalasHapus
  6. Kita punya satu prinsip yang sama: menulis untuk diri sendiri. Nggak terlalu peduli sama jumlah pageviews, view per post, visitor per day, ataupun jumlah komentar.

    Semua itu penting, tapi jumlahnya nggak penting. Akur kita. Hahaha.

    Btw, penyederhana diksi itu maksudnya memilah kosakata yang ringan-ringan dan familiar untuk orang yang jarang baca?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti tinggal cari kondisi yang bikin kita nggak akur dong? HAHAHA :P
      *udah kek netijen maha benar yang suka sekali menyulut emosi*

      Iya, benar Gip. Kosakata yang ringan. Tapi-tapi, kalo kosakata itu jarang digunakan orang lain dalam tulisan, aku berusaha buat menyampaikan artinya lewat satu kalimat utuh yang bisa dipahami. Ribet ya?

      Ngomong-ngomong ya, bener nggak sih ada istilah penyederhana diksi?

      Hapus
    2. YA ELAAAAHH KESEL BAT. HAHAHAHAHA.

      😂😂😂😂😂

      Paham kok. Semacam ngasih arahan lewat kalimat sebelum dan setelah kosakata itu kan. Jadi kayak kisi-kisi (kayak mau UN emang). Ini sekalian nyuruh pembaca mikir dan nebak-nebak juga sih. Tapi gue suka gini kok. Asik emang. :p

      Kalaupun nggak ada, berarti Anda orang pertama yang mengenalkan istilah ini. Yak selamat! \m/

      Hapus
  7. Halo, Mbak Onix!

    Saya mengunjungi balik di laman anda yang... wah, terkonsep dengan baik ya jika saya baca dari ulasannya. Saya mampir kesini kok, pas banget ada penjelasan tentang lamanmu ini. Jadi tidak perlu repot untuk kepo-kepo nih. Eehehe.

    Oiya, Mba Onix udah maem?

    Eh, maksud saya... WAAAA KITA SAMA MULAI NGEBLOG DARI TAHUN 2013 DONG! Tapi, saya belum pernah ke Labuan Bajo karena menulis, pun belum pernah merasakan mengenakan pembalut merk manapun. Jadi, ya kita beda ya :(

    Ndapapa, deh.

    Oiya Mbak, sebelum saya kepo terlalu jauh akan blogmu ini... Saya revisi skripsi dulu ya. Bhaaay~

    Ehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHA.
      Sebelum komentar lebih jauh, izinkan saya ketawa dulu ya mas Febri. Oke mas, bener kan :D

      Jadi, sesungguhnya laman ini saya tulis setelah Gigip (tetangga sebelah) bilang nggak ada laman 'About me'
      Ya! 5 tahun sudah saya ngeblog, sama kita. Tapi saya baru ini memperkenalkan diri di blog secara resmi (?)

      Kalau begitu panggil Onix aja tanpa mbak, mas. Ini juga baru selesai asistensi skirpsi sama dosbing supaya bisa menuju acc buat semhas :(

      *curhat

      Hapus
    2. Luar biasa ..., kak Onix dan mas Febri ngeblog udah 5 tahun !.
      Patut diacungi jempol dua-duanya 👍👍

      Hapus
  8. akhirnya ku bisa buka-buka blog lagi dan senang karena tulisan ini jadi yang pertama kubaca di halaman "daftar bacaan" HEHEHEHEH

    anyway, itu setuju bgt lah dengan ditulis di atas kejujuran. Bertahun-tahun nyoba selalu bisa nulis blog, aku juga ngerasain itu yang namanya "energi" waktu nulis itu emang ada dan sesuai sama keadaannya. Kadang, kalo lagi sedih pun nulis bisa berapi-api sampe berparagraf2 walaupun ujungnya kadang kalo dibaca lagi "duh kurang cocok nih dishare" tapi bener lah, tulisan tuh emang salah satu sarana terbaik buat mengekpresikan apa yang ada dalam pikiran dan emosi saat nulisnya.

    ADUH KEPANJANGAN DEH WKWKWKKWKWKW
    nice post as always I swear <3

    with love,

    a fan of your "Heart Talks"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku selalu terharu tiap ada nama Mirda di kolom komentar :") Jujur lho ini.

      Bisa buka blog setelah beres sidang akhir ya? selamat berbahagia dan lega! Turut berbangga, ditunggu cerita panjangnya. Bila perlu tanpa mikir 'harus share atau enggak'. Biar ku bisa baca proses yang orang-orang alami, termasuk dirimu. Lah :(

      Ndapapa kepanjangan, sangat diperbolehkan :P

      Uhuk. Emang biasanya yang ditulis dari hati itu bisa mewakili banyak hati yang lain gitu ya? Terima kasih luv!

      Hapus
  9. Jadi blog ini adalah ruang untuk pulang ya mbak? Berkeluh kesah atau sekedar sandaran cerita hari hari. Duh sama saya juga begitu hehehe. Kalau dilihat dari kilasan, mbak orangnya full of arts ya wkwk atau jalan fikirnya memang full of arts, keseluruhan kata-kata mbak bagus, ada nilai seninya dan yap ini unik!

    Oh ya mbak salam kenal! Baru aja follow nih, boleh followbacknya? Terimakasi :)

    BalasHapus
  10. for me, writing on my blog is also my way to transfer my feelings when no one is with me or whenI don't want to share it through spoken words. We are alike... :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.