Jumat, 08 Juni 2018

Menjadi Sore

Hari ini, di salah satu sudut di Kota Semarang, saat benar-benar mengamati hiruk pikuk jalanan sejak pukul 16.00-18.00, ada satu hal yang menarik perhatian. Dalam suasana ibadah puasa, deru mesin kendaraan lebih mendominasi daripada hari biasa. Ada yang beringasan karena dikira punya hak penuh di jalan, ada yang tidak peduli karena ingin didahulukan, ada yang berusaha menahan sabar walau manusia-manusia ini berhamburan, namun ada pula yang tidak geram meski kadang sebahagian seenaknya memperlakukan. 
(In frame: Azwad)
Saya paham kalau semua kepentingan tidak bisa disamakan, tapi yang pasti itu semua terjadi adalah karena ingin merayakan sore.
Entah bagaimana riuhnya jalanan di kota, tapi sore menjadi alasan agar ada jeda untuk rutinitas yang melelahkan.

Dan saya ingin menjadi sore, tidak peduli apa yang telah terjadi hari itu, tapi yang saya tau selalu ada  rona merah merekah atau oranye bahagia sebelum malam tiba.
Dan saya ingin menjadi sore, supaya tau kapan saatnya sudah cukup. Biar selalu ada kesempatan untuk merenung, namun bukan untuk redup.  
Dan saya ingin menjadi sore, entah selelah apa kerja dari pagi, tapi selalu ada waktu untuk berhenti.

Karena sore hadir untuk mengingatkan, bahwa semua yang dimulai selalu ada saatnya untuk diakhiri. Ia ada supaya keluh di dada berujung, biar kerja keras tidak berakhir peluh hanya karena rencana semesta belum sesuai dengan keinginan kita.  

Dari yang baru saja menikmati sore di Kota Semarang, 
-OS-

6 komentar:

  1. Btw, foto pelengkapnya keren, kak Onix.

    Artikelnya mengingatkan kita kalau kita tak perlu terus menyesali hal yang kurang menyenangkan kita hadapi..., masih ada sore hari di hari-hari selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto sunset segala rupa kebetulan kesukaan saya juga nih Mas Hino.
      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Tulisannya keren mb onix :)

    Kpn2 sy diajak nyore brg dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. WAHAHAHA!
      tak kira sopo jal sing komen, ternyata koee :P

      Hapus
  3. sore menjelma jadi senja
    beranjak di pelupuk malam nan hampa
    belum lagi lolongan tiada bersuara
    berpacu menuju puncak malam, bintang menganga

    BalasHapus
  4. Hiruk pikuk itu membuat kebanyakan lupa bahwa sore itu indah jika dinikmati dengan tenang (:

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.