Senin, 28 Mei 2018

Semua adalah tentang perspektif

Gambar terkait
Gambar terkait
Foto 1 dan 2 sama saja, keduanya hanya tentang perspektif
We live for a cause, not applause. Cause life is completion, not competition - Meira Anastasia
Melihat progress skripsi yang sepertinya masih ‘disitu-situ’ saja, saya mulai berpikir. Tidak berhenti, tapi kenapa tidak juga terlihat maju?
Kalau mau mengeluhkan lokasi survei yang jauh, toh masih banyak yang lebih jauh tapi baik-baik saja.
Kalau mau mengeluhkan responden yang harus mengatur waktu terlebih dahulu jika ingin bertemu, malah ada di luar sana yang –jangankan memenuhi sampel- mendapatkan 1 responden pun sudah bahagia. Kalau mau mengeluhkan substansi yang rumit, masih ada lagi mereka yang topiknya saja jarang diangkat. Kalau mau mengeluhkan manajemen waktu yang sulit, ada lagi beberapa yang kesusahan membagi waktu dengan keluarga di rumah atau mengerjakan skripsi, belum lagi jika ada job tambahan dan ingin melakoni hobi. Atau kalau mau mengeluhkan dosen penguji, lalu bagaimana dengan mereka yang harus berdamai dengan hati karena dosen pembimbingnya sendiri?
Ingin mengeluh, tapi kok rasanya tidak bersyukur.

Jika sepertinya semua hal yang terjadi belum sesuai dengan keinginan kita, sebenarnya salah siapa?
Ada hal yang kadang tidak kita sadari: ternyata, entah berada di A, B, atau Z, itu sama saja. Memangnya A berbeda tingkat dengan Z? Tidak juga. Ini hanya soal giliran, itu pun jika kita memulainya dari A. Dieja mundur dari Z, tidak berarti Z menjadi yang terakhir, bukan?

Semua adalah tentang perspektif. Tentang bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu, atau terhadap apa yang harus dikejar. Jika temanmu terlihat selangkah lebih maju, bukan berarti kita ada di belakangnya. Bisa jadi, dia punya tuntutan lebih besar. Bisa saja, dia masih harus menyelesaikan ini dan itu. Bisa jadi, dia sudah lebih dulu mengalami apa yang kita alami saat ini. Bisa saja, sekarang belum waktu kita, namun pada akhirnya akan beres tanpa babibubebo. Siapa yang tahu?

Lagipula, hal-hal seperti wisuda, dapat kerja, menikah, dan seterusnya bukan merupakan pencapaian yang dibandingkan. Buat apa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita?

Jadi percaya saja, selama kita tidak pernah berhenti, tidak ada yang salah dengan apa yang sedang kita selesaikan. Persoalannya hanya pada waktu. Kalau orang lain sudah mencapai A, mungkin saja nanti dengan rencana semesta, kita sudah berada di D, E, X, atau Y. Siapa yang tahu?



Dari yang sedang menjalani survei, tapi tidak kunjung usai
OS


8 komentar:

  1. intinya syukuri apa yg kita jalani dan miliki skrg, pasti akan ada hikmahnya nanti :)

    BalasHapus
  2. "ingin mengeluh, tapi kok rasanya gak bersyukur"

    "Buat apa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita?"


    Related banget sm aku yg tiap hari ngeluh, terimakasih atas kutipannya yang bikin aku sadar kalo yang penting usaha tiap hari meskipun kecil drpd berhenti.

    Dari yang belum sempro padahal bentar lagi lebaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Din! Ini juga sekalian reminder buat aku hiks :""
      Semoga disegerakan sempro!

      Hapus
  3. Terbayang2 nanti survey nya gimana buat janjian sama orang buat minta jd responden :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jan dibayangin, jalanin aja, nikmati Cit :P

      Hapus
  4. saya suka dengan kalimat ini "buat apa mengukur sepatu dengan kaki kita?" sangat dalam maknanya

    iya juga,s emuanya ga bisa dibandingkan begitu saya, apalagi antar pribadi dan pencapaian. Ga apple to apple

    BalasHapus
  5. Semangat,kak ..
    Yok, ubah mindset kita jadi lebih terarah.
    Ntar kalo melihat segala sesuatunya secara perspektif, yang ada kita 'terjebak' di pola pikir kita sendiri.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.