Sabtu, 12 Mei 2018

Mempertanyakan hal-hal remeh yang sebenarnya adalah ego sendiri

Doa bukan cuma soal transaksi. Ini juga tentang bagaimana kita mengakui: Dia, tidak pernah pergi - www.hipwee.com
Gambar terkait
Apapun yang telah berlalu bisa dilupakan, tapi doa tidak pernah usang
Di malam memperingati 20 tahun reformasi ini, tanpa sengaja saya membaca tentang pelanggaran HAM yang terjadi saat Mei 1998 silam. Kemudian pikiran-pikiran liar mulai mencuat dalam kepala. Bukan hanya soal tragedi, tapi hal-hal lain yang mulai mengganggu.
Saya masih sering kali heran. Jika benar Tuhan mau mendengar, mengapa begitu banyak hati yang kecewa? Jika benar Tuhan selalu memperhatikan, mengapa tidak semua keinginan kita Ia kabulkan? Jika benar Ia tidak pernah meninggalkan, mengapa masih saja ada duka?

Bukan hanya kejadian 12 Mei 1998 saat Rezim Soeharto tinggal menghitung hari menuju keruntuhan dan empat mahasiswa harus mati kena tembak aparat yang kini perlu diperingati. Namun rentetan peristiwa yang baru saja terjadi yang juga menyayat hati, lagi-lagi ada tragedi bulan Mei di negeri ini yang bikin siapa saja bergidik ngeri.

Di minggu yang sama, sebanyak 156 teroris yang ditahan di dalam Rutan Mako Brimob menyandera sembilan polisi. Dari kerusuhan yang berakhir setelah kurang-lebih 36 jam, lima polisi gugur akibat dibacok di bagian leher. Miris? Tidak cukup sampai di situ, esok paginya setelah nara pidana dipindahkan ke Nusa Kambangan, terjadi lagi kejadian pilu. Satu orang polisi ditikam oleh orang tidak dikenal menggunakan pisau beracun saat bertugas di Mako Brimob. Pun polisi tersebut juga tidak terselamatkan setelah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob.
Lagi, saat saya mengikuti ibadah di hari minggu, pendeta mengajak para jemaat untuk mendoakan sebuah kabar duka. Tidak pernah sebegitu merindingnya setelah menerima kabar demikian: telah terjadi ledakan bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya yang menelan sejumlah korban. Naasnya, tragedi ini direncanakan dan dilakukan oleh satu keluarga yang melibatkan anak-anak pula. Surabaya kala itu dalam siaga 1, namun pada malamnya terjadi lagi ledakan di salah satu rusun di Sidoarjo yang diduga berasal dari bom yang masih di rakit. Keesokannya lagi, terjadi serangan bom kendaraan di Polrestabes Surabaya pada jam 08.50 yang juga memakan korban.

Sedih? Mengulas ini saja hati saya masih teriris. Mereka yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak saya kenali, tapi mendoakannya menjadi kesediaan hati yang tidak diminta oleh siapapun. Air mata tidak cukup hanya untuk menangisi kondisi Indonesia yang ironi. Tentu berbelasungkawa. Namun kita juga perlu berdoa.

Dari sana, saya menjadi paham: Tidak ada yang lebih bijak dari keputusanNya.

Pertanyaan-pertanyaan sepele yang tadinya masih ada di dalam kepala membuat saya mengerti, bahwa hidup tidak perlu hitung-hitungan dengan Tuhan. Mempertanyakan hal-hal remeh yang sebenarnya adalah ego sendiri.

Mengapa begitu banyak hati yang kecewa? Karena Ia ingin kita belajar menerima, bukan meragukan rencanaNya yang tidak akan pernah kita ketahui.
Mengapa tidak semua keinginan kita dikabulkan? Supaya kita mengakui kelemahan, dan menganggap bahwa doa bukan sekedar transaksi, atau sederet permintaan yang harus disegerakan. Kalau saja yang didoa langsung diiyakan, bisa-bisa semua manusia besar kepala karena semua harapan sudah diwujudkan.  
Mengapa masih saja ada duka? Agar kita mengakui bahwa Dia tidak pernah pergi, karena Tuhan tidak hanya selalu ada, tapi juga selalu sedia.

Tentang duka, kecewa, ketakutan, kekhawatiran sebenarnya adalah hal-hal yang datang karena kita bukan fokus pada Ia yang sebenar-benarnya memberi kekuatan.
Dan untuk semua hal yang terjadi, kadang-kadang yang perlu kita lakukan adalah menerimanya.



Semoga kita menyadari bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Entah pikiran-pikiran yang salah atau ego dalam diri,
Mari kita sama-sama lekas berbenah selagi esok belum terjadi. 
Warmth Regards,


OS

6 komentar:

  1. Benar mbak, hidup tidak perlu hitung-hitungan dengan Tuhan. Cukuplah dengan berdoa, berusaha, dan menerima segala keputusannya. Semoga kita bisa belajar dari kejadian yang telah berlalu. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iyaa mb, kadang-kadang kalau kita kecewa, hal yang paling sulit itu menerimanya. Setelah itu muncul pertanyaan-pertanyaan remeh yang bikin kita susah bersyukur:""

      Hapus
    2. Sependapat apa kata kak Qudsy.

      Hapus
  2. HAHHHH NANGIS BACANYAAAA:"(((((((((((((((((

    BalasHapus
  3. Ikut merasa prihatin dengan negara kita yang masih diwarnai adanya tindak kekerasan.

    Sejatinya, manusia harus sadar sepenuhnya kalau perbuatan apapun itu ada tanggung jawabnya di akhirat nanti.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.