Selasa, 10 April 2018

Serpihan Surga di Labuan Bajo, Kepadamu Aku Jatuh Hati dan Ingin ke Sana Lagi

“Saya belajar, perjalanan bukan tentang membuktikan sesuatu, tapi tentang mencari makna yang sebenarnya tidak tau akan membawamu entah kemana” – OS

Setelah sekian lama menyimpan ingatan, I am afraid cant get enough for amazing dearest Labuan Bajo. This is so-crazy! Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Indonesia Bagian Timur, tepatnya Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Tulisan perjalanan yang saya ikutkan dalam lomba menulis oleh salah satu perusahaan farmasi Indonesia tempo lalu membawa saya menapaki Pulau Padar dan kawanannya yang menawan. Bersama 19 peserta lain yang belum pernah saya temui sebelumnya, cerita ini dimulai dari keberangkatan kami di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Antusiasme terlihat saat satu sama lain saling menyapa, dan paling jelas ketika akan dibekali dengan Tiket Pesawat Garuda Indonesia yang sudah disiapkan oleh tim. Bagaimana tidak, perjalanan ini semakin worth it karena ada pelayanan Garuda Indonesia. 
Mudah-mudahan dengan menulis ini saya bisa menepikan rindu sejenak, untuk segala lansekap di Labuan Bajo yang membuat jatuh hati saya berulang kali dan ingin ke sana lagi.
Ke Labuan Bajo dengan Maskapai Garuda Indonesia
Dokumentasi Pribadi

Tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo
Dokumentasi Pribadi
Pagi itu saya terbangun karena suara deru mesin Kapal Pinisi yang menjadi live boat selama 3 hari 2 malam melaju pelan, menandakan hari sudah melewati fajar. Lensa Flores yang sebelumnya menepi di Pulau Kambing untuk bermalam, kini sudah melanjutkan perjalanan menuju Pulau Padar. Matahari yang tanpa ragu menunjukkan pesonanya di langit pagi, menemani seorang ibu paruh baya mengupas bawang merah di ujung kapal. Dialah Ibu Bunga yang biasanya sibuk di dapur untuk menyiapkan menu makan di kapal bermuatan 10 orang penumpang dengan 5 awak kapal dan 1 orang kapten.
Live Boat di Labuan Bajo (1)
Dokumentasi Pribadi

Live Boat di Labuan Bajo (2)
Dokumentasi Pribadi
“Sudah dari 2009 jadi tukang masak di kapal, mbak,” kata Ibu Bunga yang mengenakan celemek kotak-kotak.
Ia tersipu karena saya kerap memuji cita rasa masakannya. Katanya, bisa memasak diantara perpaduan debur ombak, matahari pagi, dan aroma khas laut biru adalah bahagia sederhana yang bisa dinikmatinya setiap hari. Walau jauh dari keluarga, menjadi koki kapal untuk tur wisata bisa menjamin kepastian hidupnya. Entah 3 hari, 1 minggu, atau bahkan 1 bulan sekali, Ibu Bunga baru bisa menginjakkan kaki di rumahnya. Sejak pesona Labuan Bajo terdengar dari penjuru Nusantara hingga wisatawan mancanegara, paket jasa perjalanan dengan Kapal Pinisi membawa Ibu Bunga pada kestabilan ekonomi keluarganya. Sering berpindah dari satu kapal ke kapal lain, membuat kebetahannya berprofesi sebagai tukang masak di kapal tidak dapat dipungkiri.
Sambil menanak nasi, ia nyengir menjawab, “Lebih milih di sini ketimbang di rumah makan biasa, mbak. Penghasilannya lumayan hehe.”
Setelah melaju dari Pulau Kambing
Dokumentasi Pribadi
Kebetahan itu juga tidak berkurang meski ia kerap kali mengalami susah sinyal di tengah laut ataupun di pulau-pulau terpencil yang jauh dari menara telekomunikasi. Hal tersebut juga saya alami sejak semalam sebelum kapal berlabuh ke Pink Beach. Smartphone yang biasa digunakan sudah kehilangan koneksi. Ternyata susah sinyal di malam hari adalah hal yang wajar, apalagi jika cuaca sedang buruk. Ibu Bunga mengatakan baru bisa menghubungi anak-anaknya di kota saat sinyal di kapal sudah stabil, atau jika sudah mendekati permukiman. Namun ia tetap kerasan melakoni pekerjaannya, karena berada di atas kapal selama berhari-hari bisa sejenak melupakan hiruk pikuk kota dan problematika. Pesona senja, semilir angin laut, bahkan menyesap kopi di bawah langit bertabur bintang menjadi teman setia bersama awak kapal.
Awak kapal dan Ibu Bunga
Dokumentasi Pribadi
Tentu bukan hanya perbukitan eksostis dan laut biru yang mampu memikat hati, tapi banyaknya permintaan terhadap jasa pariwisata di Labuan Bajo juga mengundang masyarakat lokal untuk terlibat di dalamnya. Layanan pariwisata dan perjalanan memang menjadi salah satu contoh jasa yang memiliki signifikansi ekonomi yang besar di Indonesia.
Tidak hanya cerita Ibu Bunga, ada juga Akbar yang menemani saya tracking ke atas bukit Pulau Kelor.
Sebagai pemandu wisata sejak 2013, ia bercerita, “Malah sebelumnya saya jadi tour guide untuk bule. Mereka yang lebih dulu tau daripada traveller Indonesia, mbak. Wisatawan lokal jadi banyak yang eksplor Labuan Bajo ya karena bule dulu bikin hits di instagram.”
Karena itu, Akbar jadi fasih berbahasa Inggris. Sektor pariwisata ternyata tidak hanya berdampak positif pada aspek ekonomi, namun juga terhadap aspek sosial, budaya, dan lingkungan.
Tiba di Pulau Kelor setelah diantar menggunakan speed boat dari Kapal Pinisi, mata saya tertaut pada seorang anak laki-laki yang dengan mudahnya mengatur mesin speed boat seorang diri.
“Banyak yang begitu kok, mbak, buat bantuin orang tua. Itu ada yang cuma tamatan SMP, SD juga ada,” Lanjut Akbar ketika saya bertanya perihal anak laki-laki itu. Sungguh menjadi kenyataan yang memprihatinkan.
Akbar sebagai pemandu wisata
Dokumentasi Pribadi
Bagai serpihan surga, bagian Timur Indonesia ini menyimpan sejumlah spot wisata yang tidak luput dari pesonanya. Derasnya arus kunjungan wisatawan telah memantik perubahan drastis di Labuan Bajo, bahkan mampu menghipnotis setiap pasang mata yang memandang. Berbagai objek wisata yang menakjubkan ada di sana. Pulau Komodo, Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Kelor, Pulau Kambing, menjadi deretan objek wisata yang menakjubkan bagi kami para pelancong. 
Destinasi di Labuan Bajo: 
(1) Pulau Kelor
(2) Pulau Padar
(3) Pulau Komodo

Dokumentasi Pribadi
Destinasi tersebut memiliki potensi yang hampir komplit dari segi alam, lokalitas masyarakat, dan budayanya. Hal ini terlihat saat kapal kami berjalan lambat ikut mengantre di Dermaga Pulau Komodo karena banyaknya kapal lain yang juga menepi. Dengan menggunakan perahu kayu, seorang bapak menghampiri kapal kami dari sisi kiri untuk menjajakan barang dagangannya berupa souvenir khas Labuan Bajo. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri. Melihat peluang seperti ini menjadikan usaha mereka semakin berarti.
Anak kecil pengendara boat dan bapak penjual souvenir
Dokumentasi Pribadi
Di tengah terik matahari yang menyengat, saya justru merasakan tenang dan damai saat berada di atas ketinggian Pulau Padar. Betapapun kami sudah membentengi diri dengan perlengkapan seperti sunblock, kacamata hitam, topi, dan lainnya, tetap saja tidak bisa menghindari panas dan cahaya yang menyilaukan. Namun menghirup bau matahari dan angin di Laut Timur membuat saya bisa nyaman karena keindahannya. Ditambah lagi keseruan dengan pengalaman baru: SHOOTING DI ACARA MTMA! MY TRIP MY ADVENTURE! OMG! Tidak hanya ada crew MTMA saja, namun juga tiga host: Rikas Harsa, Della Dartyan, dan Widika Sidmore.


Crew dan Host MTMA di Pulau Padar
Dokumentasi Pribadi
Jika ada istilah sudah jatuh tertimpa tangga, maka ini akan jadi pernyataan kontras: sudah ke Labuan Bajo, shooting di TransTv, gratis pula! Tidak pernah terbayangkan akan mendapatkan ‘kejutan double wow’ seperti ini. Saya jadi ingat kata Arief Muhammad, perjalanan itu adalah momen yang bisa diceritakan pada anak-anakmu nanti.
“Cut! And action!”
“Coba lebih ceria yaa. Nanti jargonnya itu, My Trip? My Adventure! Teriak aja yang bebas.”
“Nah nanti kalian ikutin Widika, sambil dadah-dadah ke drone.”
“Lebih ekspresif, ya gimana kayak menikmati pemandangan bagus gini.”
Beragam instruksi dari crew menyadarkan saya sesuatu, ternyata tidak gampang untuk bisa tampil oke di depan kamera, apalagi jika sudah take berulang kali. Tidak semudah yang dibayangkan para netijen budiman yang maha benar haha.
Proses shooting MTMA di Pulau Padar
Dokumentasi Pribadi
Mengingat belum sepenuhnya tuntas menikmati destinasi di Labuan Bajo karena proses shooting dan waktu yang singkat, saya jadi kepikiran ingin ke sana lagi. Destinasi yang memikat ternyata bukan hanya ada di luar negeri, tapi juga di Indonesia yang mungkin belum diketahui banyak orang.
Ayo #JelajahNusantara bersama! Kini kamu tidak perlu khawatir lagi jika ingin berlibur ke negeri di wilayah Timur Indonesia, karena ada Skyscanner yang siap memudahkan penerbangan dengan mengantongi tiket pesawat Garuda.
Skyscanner akan memudahkan penerbangan ke Labuan Bajo
Skyscanner.co.id
Kebetulan ada promo tiket pesawat domestik April 2018 untuk kamu yang ingin mencoba destinasi di Pulau Padar bulan ini, lho. Ada promo khusus keberangkatan dari Jakarta yang menjadi bandara utama dari hampir seluruh maskapai yang beroperasi di Indonesia. Bagi kamu yang tinggal di area Jabodetabek, bisa dengan mudah cek daftar tiket promo PP ke Labuan Bajo: klik "Promo domestik dari Jakarta" dan jangan lupa download aplikasinya, ya!
Promo tiket pesawat di Skyscanner 
Skyscanner.co.id
Jika tidak bisa meninggalkan pekerjaan untuk mengambil cuti di bulan April, kamu juga punya cara lain. Bisa membaca artikel di situs Skyscanner tentang cara Memaksimalkan Cuti Tahunan Menjadi Libur Panjang dan Promo Tiket Pesawat di Tahun 2018. Siapa tau punya kesempatan di tahun ini, kan?
Saya pun sudah tidak sabar ingin menikmati liburan di Labuan Bajo lagi. Jadi ayo segera cari tiket pesawat kamu via Skyscanner sebelum harganya semakin naik! Kamu juga bisa mencari dan membandingkan harga tiket pesawat ke Labuan Bajo dan berbagai destinasi lain menggunakan Skyscanner secara gratis. Semoga ini bisa membantumu menghemat biaya tiket pesawat biar bisa ke Pink Beach dan Pulau Komodo kayak gini yah! 
 
Baris (1) Pink Beach
Baris (2) Pulau Komodo

Dokumentasi Pribadi
Cerita perjalanan yang berharga ini ditutup dengan menepinya Kapal Pinisi kami di Pelabuhan Labuan Bajo. Terlihat jelas situasi kapal yang sibuk, entah ingin berlabuh atau pulang karena baru saja berlayar. Melihat anak-anak menjadi kuli angkut barang, saya hanya tertegun. Mengapa harus repot-repot bekerja dan tidak sekolah saja? Memang hidup adalah soal pilihan, namun kadang kala keadaan mengharuskan kita untuk memutuskan. Jelajah Nusantara ke Labuan Bajo memperkenalkan saya pada banyak hal tak terduga. Bukan hanya serpihan surganya saja, tapi melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda, bertemu dengan orang baru, dan menghargai kesempatan ‘lebih’ yang kita punya. Karena pada dasarnya perjalanan bukan untuk membuktikan sesuatu, namun belajar sesuatu. Bagi saya, perjalanan yang paling meneduhkan adalah perihal menemukan: tentang makna kehidupan untuk lebih banyak bersyukur.



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

4 komentar:

  1. Pengen banget bisa main-main ke Labuan Bajo... btw harga akomodasi kesana mahal gak? lengkapi dengan harga mbak biar cetar artikelnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Recommended banget ke Labuan Bajo! Wah kebetulan gratis pula kemarin wkwk, tripnya setau saya nggak mahal mas. Nanti lain kali saya coba review ya. Terima kasih masukannya! :)

      Hapus
  2. wah seru banget, pemandangannya keren plus bisa shooting MTMA. Double luck ya mba :D
    Saya belum pernah nih ke Indonesia Timur. Melihat foto-fotonya benar kata orang-orang alam disana bagaikan hamparan surga yang terdampar di bumi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa nih, triple bahkan mba :D
      Tapi ya gitu, belum puas karena proses shootingnya harus take berulang-ulang hehe
      Timur Indonesia bagian Maluku dan NTT setau saya juga amazing place loh

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.