Jumat, 16 Maret 2018

Menghina Tuhan?


Siapa perempuan yang sudah menginjak usia 20 tahunan tidak khawatir dengan masa depannya?
Saat masih SMA, saya bertekad tidak ingin sekolah kedinasan. Begitu banyak aturan, tidak ada kebebasan, ada hal yang mengikat. Itu yang saya pikirkan. Dengan keberanian anak remaja tanggung, saya memilih perguruan tinggi negeri di Jawa. Jauh dari rumah dan merantau adalah pilihan yang berani bagi saya.
Saat itu pula, saya berpikir tidak ingin menjadi PNS alias Pegawai Negeri Sipil. Dengan alasan akan sulit berpikir kreatif karena nantinya akan menjalani rutinitas yang itu-itu saja, PNS menjadi pilihan terakhir jika nanti sudah memasuki usia kerja.

Waktu berjalan, lalu kuliah dan kini sudah berada di semester tua. Begitu banyak realita yang harus saya hadapi di usia ini. Saya pernah mengalami ketakutan dan kekhawatiran luar biasa yang tidak beralasan. Bisa dibilang belakangan ini saya sudah tidak kambuh lagi. Berkat doa bapak ibu, saya bisa melewatinya.

Siapa perempuan yang sudah menginjak usia 20 tahunan tidak khawatir dengan masa depannya?
Apa hanya saya?
Belum terjadi pun, saya sudah memikirkan besok akan jadi apa, nanti akan bagaimana, masalah ini dan itu bisa selesai atau tidak, apakah adik saya bakal bisa melanjutkan sekolah lagi nanti, dan hal-hal lain yang semakin menumpuk dalam hati dan mengganggu.

Jika dulu saya enggan memilih PNS untuk jadi pekerjaan tetap, maka saat ini tidak apa-apa jika hanya bekerja sebagai honorer di badan pemerintahan. Jika dulu bermimpi ingin jadi penulis, supaya bebas dan tidak terikat, maka kini realita itu semakin nyata. Menulis hanya dilakukan jika ingin saja. 

Saya mulai berpikir realistis. Menghadapi kehidupan yang menginjak usia 20tahunan ternyata tidak gampang. Berkutat pada kebutuhan hidup dan keinginan tak terbatas, namun biaya ini itu masih mengiba dari bapak ibu. Jadi apalagi ini? Saya mulai berpikir kenapa tidak bisa seperti mereka yang tidak menyusahkan orangtua. Saya mulai tidak menerima keadaan yang disabotase sendiri.

Kekhawatiran-ketakutan itu perlahan menjalar hingga ke ubun-ubun. Setiap hari memikirkan tanpa tau harus berbuat apa.

Siapa perempuan yang sudah menginjak usia 20 tahunan tidak khawatir dengan masa depannya?
Lantas kalimat Sujiwo Tejo menampar saya dengan sangat. Katanya, menghina Tuhan tidak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya, khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.

Apa iya saya sudah menghina Tuhan?
Padahal sudah jelas, burung-burung di udara Ia beri makan secukupnya. Bunga Bakung yang indah di padang tumbuh segar tanpa menabur dan menuai.
Bukankah saya lebih berharga daripada itu semua?

Apa iya saya sudah menghina Tuhan?



4 komentar:

  1. keren tulisannya, sangat menginpirasi banyak orang ini mba termasuk saya.

    Salam hangat dari Jambi mba

    BalasHapus
  2. Salam kenal, ini baru pertama kalinya saya berkunjung ke blog ini. Tulisannya juga keren kak. ^_^

    BalasHapus
  3. this writings of yours speaks for my soul!

    BalasHapus
  4. Pemikiran yang beri kekhawatiran masa depan hanya menjadi batas. Hidup di bumi enak, bisa baca tulisan dari rasa dan fikiran.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.