Sabtu, 16 Desember 2017

Menyesap pahit dalam secangkir kopi


Kemampuanmu menghargai sesuatu terlihat dari caramu menghargai hal kecil dan sederhana - @benzbara_


Sejak duduk di pondok kopi malam ini, saya menyadari, bahwa benar yang dikatakan dalam Filosofi Kopi: Seindah apa pun huruf terukir, ia tidak akan bermakna bila tak ada jeda. Pikiran yang berkelana liar dalam kepala tak dapat dimengerti jika tidak ada ruang untuk memahami.

Sejak menyesap pahit dalam secangkir kopi malam ini, saya menyadari bagaimana ia bisa mengajarkan sesuatu. Bukan tentang rasa, tapi cara menikmatinya.

Setelah menemani gelap dalam gigil, setiap teguk Caramel Machiato malam ini perlahan meredam emosi yang melelahkan. Entah itu rasa khawatir selama sepekan, sisa kecewa kemarin sore, atau rasa bersalah yang tidak pernah reda adalah soal caramu memaknainya.

Tentang jeda dalam kata, saya ingat Dee pernah bilang, kalau hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam. Kita perlu waktu untuk menghargai hal kecil dan sederhana. 

Tentang pahitnya secangkir kopi, saya belajar bahwa perbedaan bukan soal siapa yang benar dan salah, tapi cara untuk mengalah pada ego. Untuk tidak perlu menjadi sama jika ingin diterima –



Warmth Regards,
OS


Semarang 01:03, ditulis setelah gempa 7.3 SR Laut Jawa Barat di Tasikmalaya pukul 23:47.
Semoga saya, dan semua yang terkena guncangan, selalu baik-baik saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.