Sabtu, 28 Oktober 2017

Tidak Biasa, Sebuah Itinerary Bangkok Rasa Eropa

‘‘Sawasdi khap,’’ ucap salah seorang tour guide local yang menyambut kami di Don Mueang Airport dengan rangkaian bunga cantik yang sudah disiapkan sebelumnya.
Bersama 100an teman lainnya dari kampus yang sama, kami memilih Bangkok sebagai tujuan KKL Abroad atau Kuliah Kerja Liburan Lapangan. Dengan keberangkatan bersama Air Asia dari Semarang pada 23 April pukul 08.55, kami melakukan penerbangan menuju Kuala Lumpur International Airport 2 untuk transit sebelum sampai di Bangkok. Tidak pernah terbayang, perjalanan pertama saya ke Bangkok akan seramai dan se-unforgettable ini!

Sunset saat akan mendarat di Bangkok
Jika ada begitu banyak orang yang mengiyakan bahwa Bangkok memiliki kemiripan wajah dengan Jakarta, maka saya adalah salah satunya. Gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang ramai dan padat menjadi ciri khas keduanya, yang berbeda adalah bangunan khas budaya di Bangkok yang kokoh di tengah kota metropolitan. Jika memilih untuk ke Bangkok lagi, saya gegas mengiyakan. Perjalanan liburan yang dicampuradukkan dengan kegiatan akademik sepertinya belum tuntas membayar rasa penasaran di tempat-tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya.

Asiatique The Riverfront dengan perpaduan resto di pinggir sungai dengan lampu warna-warni, kumpulan gembok dan patung juliet ala-ala Eropa, big bianglala yang ikonik, dan kesempatan yang sangat singkat, bikin saya pengin ke sana lagi! 
Photo by: Abid
Dengan menyusun itinerary yang baru, saya akan memilih trip ke Bangkok yang antimainstream bersama Air Asia lagi. Berbekal rasa ingin tahu, rencana 3D 2N di Bangkok akan disulap menjadi perjalanan ala-ala Eropa. Sebelum tiba di Bangkok, saatnya mencari hostel yang unik dan murah di Air Asia agar semua perjalanan yang melelahkan terbayar dengan kenyamanan hostel pilihan.
Hotel di Bangkok saat KKL Abroad
DAY 1- Terjebak Nostalgia!
Keberangkatan, Hostel, Grand Palace, Asiatique The Riverfront
Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada pagi hari, akan tiba di Don Mueang Airport Bangkok setelah jam makan siang. Setelah siap meluncur ke Hostel untuk check in, hari pertama akan dimulai dengan perjalanan ke tempat bersejarah. Kemana?

Grand Palace
Tidak afdol rasanya kalau ke Bangkok tidak mengunjungi kuil-kuil budayanya yang khas. Walaupun tempo hari kami sudah mengunjungi Wat Pho, saya masih ingin mengeksplorasi keunikan pagoda-pagoda Bangkok lainnya. Di mana lagi kalau bukan Grand Palace. Kompleks bangunan istana sebagai kediaman resmi Raja-raja Thailand dari abad ke-18 sungguh menggugah hati karena saya ingin sekali melihat ikonik Bangkok satu ini. 
Photo by: www.bangkok.com
Suhu di Bangkok yang berkisar antara 36-40 derajat celcius memang sering mengaburkan keinginan kita untuk memilih perjalanan versi outdoor. Terlepas dari cuacanya yang ekstrem, saya tidak kapok ke sana lagi, walau sering kali berebut tempat teduh yang sangat jarang ditemukan.
1

2

3

4

5

6

7
All photo from 1-7 by Abid at Wat Pho
Berbicara soal kerajaan, saya jadi ingat ketika kunjungan pada April lalu, masyarakat di Thailand sedang berkabung atas wafatnya Raja Bhumibol yang tutup usia 88 tahun. Sesuai tradisi, kematian raja menjadi sejarah yang tak terbantahkan, sehingga hampir di setiap sudut kota terdapat lukisan atau gambar mendiang sang raja baik di tempat wisata, gedung bertingkat, pertokoan, atau di jalan-jalan besar. 

Asiatique The Riverfront
Belum sempat mencicipi aroma malam hari dengan nuansa Sungai Chaopraya yang menyeruak menggunakan water taxi, saya memilih Asiatique untuk dikunjungi lagi langsung pada hari pertama! Belum lagi perawakan Ladyboy di main entrance yang tidak kalah cantik dibanding model Victoria Secret, melihatnya menari gemulai saat kita merogoh kocek menjadi hal yang saya khawatirkan. Kenapa? karena seperti lagu Raisa: ku terjebak di ruang nostalgia~
Photo by: Aswad 
Photo by: Aswad 
Photo by: Aswad 


Photo by: Aswad 
Setelah menyusuri Grand Palace dengan arsitektur indah dan detailnya yang rumit, perjalanan hari pertama akan dilengkapi dengan nuansa malam dan kulinernya sekaligus berbelanja oleh-oleh khas Thailand di Asiatique. Hal ini mengingatkan saya saat pertama kalinya berbelanja di Wat Arun bersama teman-teman kampus. Siapa sangka di Bangkok banyak yang bisa berbahasa Indonesia? Selain empat Tour Guide Local kami kala itu, para pelapak oleh-oleh khas Thailand di Wat Arun termasuk dalam list!
“MURAAH-MURAAAH, DIBELI-DIBELII.” Tawa kami pecah karena salah seorang teman meniru gaya berbicara penjual di sana, sebut saja El. Seru! Haha! Di ruangan yang terbilang sesak bak di KRL Jatinegara tujuan Bogor pada peak hour, kami justru betah berlama-lama, bahkan sampai keringat sudah mengucur. Hampir kalap! Saya yakin momen ini selalu bikin kangen. Khob Khun Kha GUYS!
Photo by: Aswad 

DAY 2- Hari Kedua ke Eropa? Benarkah?
Santorini Park, Camel Republic, The Venice, Swiss Sheep Farm
Terletak sekitar 20 Km dari Bangkok, ada destinasi unik yang menawarkan keindahan benua biru ala Yunani. Belum pernah ke Eropa menjadi alasan utama untuk bisa menikmati setidaknya replika saja. Berangkat dari Hostel setelah sarapan, tujuan pertama di hari kedua yaitu Santorini Park. Rute ke Hua Hin yang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, perjalanan wajib dimulai pada pagi hari.

Santorini Park
Santorini Park memang berada di benua eropa tepatnya di Yunani. Namun di Hua Hin Thailand, kita dapat menemukan tempat wisata Thailand yang benar-benar mirip dengan Santorini Park.
Taman bermain yang didesain dengan gaya khas Yunani ini menyuguhkan nuansa khas putih biru yang selalu terlihat di semua bangunannya.
  • Lokasi : Rama I Rd, Khwaeng Wang Mai, Khet Pathum Wan, Krung Thep Maha Nakhon 10330, Thailand
  • Jam Operasi : 10:00 – 19:00
  • Harga : 170Baht / Rp66.000
Photo by: novotelhuahin.com
The Venezia
The Venezia bisa menjadi tempat jalan-jalan cantik, romantis dan stylish dengan suasana kota Venezia yang keren. Tempat yang terletak di perbatasan antara Cha Am dan Hua Hin, Petchabury ini berisi lebih dari 300 tempat shopping dan restoran dengan arsitektur khas Italia. Selain itu, berbagai ikon Kota Venezia juga ada di sini seperti replika menara San Marco dan Grand Canal sepanjang 200 meter yang lengkap dengan gondola. 
Photo by: Suvarnabumiairport.com
Camel Republic
Sebuah tempat wisata favorit turis asing ini sebenarnya adalah sebuah komplek taman bermain yang memiliki tema dari beberapa negara. Tidak hanya seperti di Yunani, di Santorini Park terdapat beberapa tema lagi yaitu Camel Ride yang bergaya Maroko. Seperti berada di Timur Tengah, Camel Republic berada di Cha Am yang berdekatan dengan Hua Hin. Hanya butuh 30 menit dari Hua Hin menuju Cha Am dan masih bisa dijangkau dengan bis umum. 
Photo by: foodtigertw.com
Swiss Sheep Farm
Ingin mencari wisata yang menawarkan suasana lahan pertanian di sebuah lembah? Tempat yang satu ini berada di Kao Yai, Cha Am. Menjadi wisata paling favorit di daerah Hua Hin, Petchabury, Swiss Sheep Farm dibuat persis seperti peternakan domba di Swiss karena dikelilingi perbukitan yang indah. Tentu saja diisi dengan sekumpulan domba yang bisa diajak main dan diberi makan secara langsung. Di Swiss Sheep Farm, pengunjung juga bisa melakukan berbagai game klasik, seperti tembak balon, panahan hingga mengendarai crazy cow.
Photo by: novotelhuahin.com
Dengan keseruan menjelajah Thailand, kita tidak perlu lagi berlibur ke Eropa dengan biaya yang cukup mahal. Tinggal berpose di Santorini Park, The Venice, Camel Republic, dan Swiss Sheep Farm. Meskipun berbeda daerah, kelima tempat wisata tersebut saling berdekatan dan masih dalam satu jalur, yaitu di sepanjang jalan utama Bangkok-Hua Hin. 


DAY 3- Kenangan
Chocolate Ville, Pulang Menuju Bandara
“Ini namanya Pipi Monyet,” celetuk tour guide di bus saya waktu itu sambil menunjuk kolam besar di sebelah kanan. Lantas ada yang mengulanginya lagi, “Fifi Monyet? HAHAHA!’’ Sontak kami tertawa, pantas saja Fifi, salah seorang teman yang duduk di bangku belakang jadi sasaran guyonan kami. Kolam tersebut merupakan sistem drainase yang dimanfaatkan untuk menangani masalah banjir yang kerap terjadi di Bangkok. Orang-orang di sana menyebutnya Kaem Ling.

Kenangan di Bangkok memang bikin saya ingin menjelajahnya lebih jauh, karena baru saja melihat postingan salah satu momen @anakjajan di instagram. Yap, Chocolate Ville.  
Ternyata di pinggiran timur laut Bangkok, tepatny di Jalan Kaset Nawamin, Bangkok, ada tempat makan baru bertemakan desa-desa Eropa dalam satu tempat. Chocolate Ville memindahkan seluruh nuansa Eropa ke dalam sebuah tempat makan asyik!  
Photo by: anakjajan
Foodcourt Chocolate Ville baru buka pada pukul 16.00 WIB sampai tengah malam. Kincir Belanda tampil mencolok di pinggir jalan raya sebagai penanda tempat ini dari kejauhan. Dari gerbang masuk tampak sebuah menara suar, dan rumah kayu bertuliskan Village Market & Deli. Ada ratusan meja berjejer outdoor dan indoor dengan detil yang ciamik, mulai dari Conservatory Garden berbentuk gazebo, The Bell House berbentuk kapel, Farmville Dairy Barn berbentuk lumbung peternakan, Rosewood Inn penginapan desa di Inggris, atau Old Town Wine Cellar berupa rumah wine. Begitu juga arsitektur, dekorasi dan fasad bangunan. Benar-benar bernuansa Eropa, bahkan ada kanal buatan walaupun tidak dipakai berperahu.
Photo by: www.youtube.com
Setelah cukup lama menikmati suasana, akhirnya rencana perjalanan ke Bangkok selam 3D 2N ini ditutup dengan senyuman dan cerita perjalanan yang tidak biasa untuk dibawa pulang ke rumah.

Jika Air Asia bisa mengakomodasi perjalanan 100 orang lebih saat kami KKL Abroad, apalagi dengan trip baru rasa Eropa ini, semuanya pasti beres! Pob gan mai na Bangkok! Tunggu saya dengan cerita baru lagi!
Saat pulang menuju Indonesia (Semarang)
Thanks to Aswad and Abid for good photos in Bangkok a few months ago! 


Regards,
OS

2 komentar:

  1. Gimana caranya biar bisa nulis well-structured kaya gini ya? :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. First, sering nulis. Lalu temukan cara menulismu, semua orang pasti bisa menulis dgn struktur yg baik, tapi tergantung gaya menulisnya eaaaaaa sok kali aing:(

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.