Minggu, 10 September 2017

Collect moments, not thing

“Collect moments, not thing” - Arief Muhammad
Percaya atau tidak, kita saat ini berada di tengah kehidupan yang masih kebingungan mendefinisikan suatu pencapaian. Ada yang mengatakan kalau prestasi adalah mutlak. Kekeliruan yang perlu dipahami itu justru memunculkan ambisi egois, tidak memikirkan kepentingan lain. Berpikir jika ‘saya telah berhasil mendapatkan A, maka saya adalah unggul’, merasa telah memenangkan garis finish yang dielu-elukan khalayak, bak menjabat gelar prestise ‘saat yang lain tertidur, saya justru terjaga’.  
 
Collect moments, not thing
Photo by: Akbar
Pernahkah mengira jika seseorang sebenarnya takut pada apa yang belum benar-benar mereka pahami? Dia yang mengira bahwa prestasi demikian adalah pencapaian, sesungguhnya sedang takut menghadapi dunia yang sedang kebingungan. Ia takut jika nantinya tak bisa hidup di tengah jutaan manusia yang berlomba-lomba bertahan agar tidak mengalami seleksi alam. Ia takut karena sebenarnya tak paham apa makna pencapaian.
Terkadang, ia yang berkutat pada reputasi adalah ia juga yang sulit keluar dari zona nyaman. Menikmati sedikit pencapaian yang dirasa besar, hingga tidak ingin melihat keluar untuk menemukan banyak hal.
Pernahkah sedikit saja bertanya apa pencapaian yang orang lain kira? Apakah hanya prestasi atau untuk diakui saja?

Sejak menamatkan SMA, ia menyesali karena tidak pernah kemana-mana. Sejak kuliah, ia menyesali karena hanya berkutat pada sepetak meja. Lantas ia sejenak berhenti, agar tidak terlambat menyadari. Karena pencapaian adalah saat kau berada di tempat yang membuatmu merasa kecil, sedang duniamu begitu luas, dan bukan sebaliknya. Pencapaian yang disebut adalah sebuah perjalanan. Memang tak banyak perjalanan yang pernah ia lakukan, mungkin satu atau dua kali. Tapi kelirunya menjadi hal yang kini pasti, bahwa lewat perjalanan, alam saja tak ubahnya ruang kelas di perkuliahan. Karena perjalanan adalah cara terbaik untuk belajar, mengikis ambisi, menempah sabar demi prestasi yang sebenarnya.

Pernahkah melihat perbedaan antara mereka yang sering melakukan perjalanan dengan mereka yang tidak pernah kemana-mana? Pola pikir keduanya pasti berbeda. Kecenderungan ‘collect thing’ dan ‘collect moment’ yang akan menunjukkannya.
Lantas kata Arief Muhammad, “Kalau ada kesempatan dan kira-kira memungkinkan, pergi travelling deh. Pergi sesering mungkin semampunya yang kalian bisa, karena nanti pas udah tua, baju atau sepatu branded yang kalian punya sekarang enggak bisa jadi bahan obrol. Tapi kenangan seru ketika travelling, bisa.”


Dan dia yang pernah takut pada apa yang belum benar-benar ia pahami adalah saya.



Regards,
OS




3 komentar:

  1. Perjalanan dapat pula berupa perjalanan batin yang memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dan menaklukkan diri sendiri. Nice post!

    BalasHapus
  2. Wow, saya bangga sm km nak����

    BalasHapus
  3. Setuju sekali!!! :'D
    Saat saat ini semenjak tamat kuliah dan mulai bekerja hampir 2 tahun ini saya memang menghabiskan waktu disela-sela pekerjaan dengan pergi-pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, ke luar kota sih seringnya :'D I don't want to buy things, I want to buy memories and experience.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.