Kamis, 31 Agustus 2017

Gerakan No Hate Monday: dari Terpaksa jadi Biasa, Saatnya Nyalakan Aksi Nyata Bekerja Bersama #UbahJakarta

∞ Sekelumit Drama Anak Ibukota
“Aku dari Bekasi ke Raden Patah (Jakarta Selatan) komuter 2 jam kalo macet, huh. Pernah coba dianter pake motor, tepos gila. Itu kalo pagi, lain pas balik. Malah aku sama Adis kemarin sempet bandingin cepetan mana bus apa KRL,” cerita Erma soal rutinitasnya setiap jam pulang-pergi di hari kerja. Ia baru saja menyudahi masa Kerja Praktek sebagai mahasiswi Teknik Planologi dengan kurun waktu 2 bulan di salah satu kementerian di Jakarta. Ya, beberapa diantara kami mendadak jadi ‘anak Ibukota’, memilih mencari pengalaman di sini tanpa tau apa yang sebenarnya menjadikan Jakarta bermakna ganda: kutub negatif sekaligus kutub positif. Ia bisa menarik siapa saja dan menjanjikan ‘gula’ pada ‘semut-semut’ pencari nafkah, namun menjadi bau busuk untuk segera dijauhi bagi mereka yang tidak mudah menerima gejala shock and stresses. Itulah setidaknya yang bisa disimpulkan setelah untuk pertama kalinya, ini adalah waktu terlama saya bisa mengamati Ibukota. 

Beberapa diantara mereka yang berdomisili di daerah penyangga memilih menjadi komuter dengan salah satu alasan: ingin menghemat biaya agar tidak perlu sewa kost-kostan di Jakarta. “Delapan ratus ribu per bulan, kamar mandi luar, no wifi. Itu udah paling murah.” jelas Lillah menerangkan rincian sewa kostannya saat saya bertanya. Saya hanya menelan ludah. Menenggak sesuatu yang kosong. Jakarta dengan segala bentuk keramahtamahannya selalu sedia menyambut pendatang dari mana saja, tinggal kita yang perlu menjawab pertanyaan “Siap menghadapi drama di Ibukota?”
Belum lagi beberapa waktu lalu Ona yang bercuit di twitter mengeluhkan “Memasuki tahap 'rindu makanan Semarang' kayak pecel, nasi orak arik pake sarden dan sop ayam pak min the best makanan ever enak&murah”. Wajar saja dengan biaya hidup yang tidak sama saat berada di Kota Lumpia, ia juga menambahkan “Kapok jadi anak Ibukota Nix. Ga mau coba lagi.”
Captured by: Onix
Jakarta benar-benar bak ibu yang mendidik dengan keras, tak peduli bagaimana kewalahan anak-anaknya menghadapi kehidupan, karena ia tau ada begitu banyak hal yang harus bisa dilewati anaknya kelak.
“Kalo aku lebih adaptasi ke daily life di Jakarta yang bikin capek, tapi yo kudu iso. Kopaja User aku saiki,” kata Octo suatu kali di tengah percakapan kami lewat whatsapp.
Ada yang menerima kemudian menjalaninya biasa saja, ada yang mulai kerasan setelah sepekan berusaha menyesuaikan diri, dan tidak sedikit yang ingin cepat menyelesaikan masa magang di Ibukota karena alasan ‘muak’ dengan gaya hidup yang sulit diikuti. 

“Udah dari subuh berangkat, baru sampe sini coba (via Jalan Tol Jakarta-Bekasi Timur),” jelas Adis lewat snapgram miliknya. Lain lagi dengan Nadia, “Kalo bahasnya tentang kejahatan seksual dan kenyamanan transportasi publik, wah aku banget itu kalo naik KRL apalagi di gerbong yang campuran hmm menarik,” komentarnya saat ditanyai soal pengalaman komuter dari Depok-Jaksel. Tidak hanya keduanya, melainkan Tiara, Ira, dan teman-teman saya yang lain mengomentari hal yang sama. 
Captured by: Onix
Meski mengeluhkan ketidaknyamanan dan lamanya waktu selama di perjalanan, mereka justru tetap memihak pada KRL, Bus, Kopaja, Metro Mini, dan sepaket drama di dalamnya. Kota yang macet pada jam-jam kerja ini, memaksa banyak orang menggunakan hanya satu pilihan moda, yaitu transportasi publik.
“Dilema itu pas milih mau di gerbong kereta khusus wanita yang ‘anarkis’, atau gerbong biasa yang banyak bapak-bapaknya tapi dikasih duduk,” kali ini Desias yang beropini.
Melihat mereka yang langsung membagikan ceritanya di linimasa, saya beruntung karena tidak mengalami sekelumit kejadian demikian di Ibukota. Ada hal lain yang memudahkan masa magang ini hingga hanya beberapa saja yang saya alami.
Mengapa Harus #UbahJakarta?
Transportasi dan gaya hidup adalah dua hal paling kentara mengisi rutinitas di Jakarta. Juga dua hal yang paling mendominasi keluhan banyak orang, yang sering menjadi drama bagi banyak perempuan, dan agaknya belum tuntas diselesaikan. Jadi masih tanya kenapa kita harus ubah Jakarta? 
Source: di sini
See? Lihat faktanya!
Jakarta tercatat sebagai kota paling macet di dunia tahun 2015. Pengguna kendaraan pribadi di Jakarta masih lalu-lalang! Padahal Jakarta tidak jauh berbeda dengan Bangkok beberapa tahun silam, bahkan tingkat kemacetan di Bangkok terbilang sangat parah. Namun kini ia sudah bergerak lebih cepat demi perubahan yang baik. Pernah terpikirkan kenapa begitu membludaknya wisatawan mancanegara datang ke Bangkok? Kenapa bukan ke Indonesia, padahal negeri kita lebih kaya! 
Saya tau jawabannya setelah langsung ke sana. Saat kampus mengadakan KKL Abroad ke Bangkok, saya merasakan perbedaan yang kentara. Transportasi publik yang nyaman menjadi pilihan bagi banyak orang di Bangkok, tidak seperti di Indonesia yang masih ogah berpindah dari kendaraan pribadi.
"Transportasi kota di Thailand lebih baik dari Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini," -Primanto Hendrasmoro, Wakil Dubes RI di Thailand (2011)
Pemerintah Thailand membangun sebuah sistem transportasi terpadu di Kota Bangkok untuk mempermudah perpindahan, meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan asing, dan menurunkan tingkat polusi udara dan kepadatan lalu lintas. 
Photo by: Akbar
Grafis by: Onix
Saat ini Kota Bangkok telah memiliki beberapa moda transportasi unggulan seperti moda transportasi air berupa perahu mesin melintasi sungai Chao Phraya yang eksotik, moda transportasi Skytrain dengan konstruksi di atas jalan raya, moda transportasi MRT, kereta api antar kota, bus antar kota maupun kendaraan tradisional Thailand beroda tiga yang dikenal dengan sebutan Tuk-tuk.
Setelah menengok langsung
transportasi publik di Bangkok saat KKL Abroad 
Credit by: Mezbah

MRT menjadi solusi kepedulian terhadap kemacetan yang terjadi setiap hari di Jakarta. Kita semua butuh transportasi publik yang didukung dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat. 
Mengapa harus MRT #UbahJakarta? Faktanya adalah: 
#MRT bisa menurunkan waktu tempuh dan meningkatkan mobilitas. Kondisi ini memberikan dampak kepada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi kota, dan meningkatkan kualitas hidup warga kota.
#Bagi lingkungan, hadirnya MRT juga berdampak positif mengurangi emisi gas buangan, yaitu sekitar 93.663 ton per tahun akan berkurang.
#Percaya atau tidak, pembangunan MRT ini dapat menciptakan lapangan kerja! Selama periode konstruksi, proyek MRT Jakarta diharapkan dapat menciptakan sekitar 48.000 pekerjaan baru.
MRT mengembangkan konsep Transit Oriented Development (TOD), ada jalur pejalan kaki lagi! Kita jadi lebih mudah untuk dapat terhubung dengan seluruh moda tersebut.
Source: di sini

Source: di sini
Jadi kapan kita mulai bergerak?
Perkembangan konstruksi proyek MRT Tahap I rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia ditargetkan mencapai 78 persen pada akhir Agustus 2017, dan MRT Jakarta akan beroperasi mulai Maret 2019. 
Jangan lewatkan untuk melakukan perubahan! Mari sama-sama tau sudah sejauh mana kemajuan pembangunan MRT Jakarta. Supaya kita bisa siapkan diri dari sekarang!
Kemajuan MRT Jakarta saat ini
Source: di sini

Gerakan #NoHateMonday, Saatnya Mengubah Terpaksa Menjadi Biasa
Siapa yang setuju jika gaya hidup dimulai dari hal-hal yang kita ingin lakukan daripada sesuatu yang bersifat keterpaksaan? Terpaksa memilih moda transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi, terpaksa memilih sesuatu yang bukan kita. Mengubah gaya hidup tentu tidak mudah bagi sebagian orang, apalagi jika sudah mengubahnya tidak ada jaminan pasti. Namun perubahan tersebut bisa kita bangun bersama-sama dengan gerakan aksi. 
Saya menyebutnya Gerakan #NoHateMonday. Siapa yang tidak benci hari Senin? Ada yang bilang Senin itu sebenarnya ‘Pasca Minggu’ yang gagal, bahkan sudah ada yang namanya fobia terhadap hari Senin. Tragis sekali ya? Nah, dari situlah ide Gerakan #NoHateMonday ini berawal. Melihat banyak orang yang menjalani hari Senin karena tidak ada pilihan lain, ini sama halnya dengan memilih menjadi pengguna transportasi publik karena keterpaksaan. 

Gerakan #NoHateMonday merupakan sebuah movement (pergerakan) yang terinspirasi dari gerakan #EarthHour, untuk mengajak satu juta individu lebih yang punya segudang rutinitas di Jakarta untuk bersama-sama mengubah berpindah dari transportasi pribadi ke transportasi publik. Movement (gerakan) ini akan mendorong adalah publik (individu, kelompok, korporasi) untuk melakukan apa saja untuk Jakarta yang lebih baik. Komitmen itu dimulai dari hal sederhana dengan menggunakan transportasi publik di hari senin (semua kalangan yang akan beraktivitas di Ibukota), dan kemudian setelah itu mengubah kebiasaan tanpa terpaksa menjadi gaya hidup.
Gerakan #NoHateMonday juga bisa memanfaatkan kekuatan media sosial untuk menyebarkan pesan #NoHateMonday melalui kanal media sosial masing-masing. Twitter misalnya, media ini sebagai sebuah platform komunikasi yang memiliki misi sama dengan kita yang ingin berbagi pesan positif. MRT sebagai transportasi masa kini akan menjadi icon yang diangkat. 
Melihat banyak anak muda yang aktif di berbagai media sosial, sejumlah figur publik seperti Prilly Latuconsina (Seniman), Arief Muhammad (Youtuber), dan Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015) juga bisa berperan sebagai Ambassador aksi ini untuk turut mendukung Gerakan #NoHateMonday untuk #UbahJakarta kepada publik. Menarik bukan?
Karena mengubah terpaksa menjadi biasa tidaklah sulit, kamu juga dapat ikut andil menyebarkan gerakan #UbahJakarta ini, mari viralkan!
Cobalah melakukan sesuatu tanpa membangun ekspektasi, apalagi itu untuk negeri sendiri. Cobalah untuk berupaya tanpa mengharapkan pamrih, dengan membangun gerakan aksi.
Ambassador sebagai daya tarik

Di Suatu Malam 
“Jakarta mirip Bangkok ya, Lil. Ah lebih cantik malah.”  Memandangi bentuk skyline langit Jakarta dari jembatan layang busway adalah salah satu hal terbaik yang bisa saya nikmati di kota super padat ini.
“Hmm,” jawab Lillah seadanya.
“Iya kan?” Saya kembali meyakinkan. Kami terus menyusuri sepanjang jembatan layang yang baru saja 5 menit lalu berada di lapangan Monas.
“Entah udah berapa kali kamu ngomong kayak gitu, Nix.” Saya hanya tertawa, menikmati indahnya jalanan Jakarta saat malam hari dari balik pintu busway. Di malam kemerdekaan Indonesia ke 72.


Saya yakin Jakarta bisa lebih baik dari Bangkok. Entah itu transportasinya, lingkungannya, dan hal-hal lain yang juga bisa kita ubah demi kenyamanan bersama. Bagi penduduk asli, penduduk di daerah penyangga, maupun pendatang seperti kami dan kamu yang mungkin akan magang di sini. 


(Sumber foto: dokumentasi pribadi)
Karena kita memang tidak bisa memilih apakah akan terkena dampak dari masalah transportasi Jakarta atau tidak, tetapi kita masih bisa memilih akan mengubah gaya hidup sekarang juga atau tidak. 




Salam,
Onix (Mahasiswa magang yang mengharapkan Jakarta bisa lebih baik)


Sumber Pendukung: 
https://kominfo.go.id
https://www.cnnindonesia.com
https://jakartabytrain.com
https://jakartamrt.co.id/


2 komentar:

  1. emang kalo dibandingin ama ibukota negara lain sih kalak telak jakarta, masih berantakan banget. Untungnya akhir2 ini mulai ada perbaikan ya mbak, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo skyscrapernya Jakarta ga kalah kok :D

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.