Senin, 15 Mei 2017

Perjalanan Pertama ke Jogja

 “The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

Jika dunia adalah sebuah buku, maka ini adalah langkah kaki saya untuk beranjak ke halaman kedua, mengawalinya dengan perjalanan singkat satu tahun lalu. Cerita ini berawal dari long weekend yang sangat sayang jika tidak dimanfaatkan mahasiswa teknik seperti kami. Itinerary? Jangankan rencana, melakukan perjalanan sendiri saja baru kali pertama itu. Berdua dengan Yunita, teman adu argumen kuliah saya, kami mulai menyusun strategi dadakan. Lebih tepatnya basa-basi berkedok strategi. Haha! Boro-boro budget plan, mau ke mana aja kita nggak tau.
“Ke Jogja? Kan deket tuh.” Hanya itu tujuan yang terlintas di pikiran saya. 
“Di sana nanti gimana?” Yunita menimpali.
“Ntar aku hubungi Kak Monic, dia kuliah di UGM.” Beruntunglah ada Kak Monic, semua jadi beres haha.


Full team: Kak Mona, Onix, Yunita, Kak Monic
Di hari-H, kami berangkat ke terminal Sukun untuk membeli tiket travel Rp55.000 dari Semarang menuju Jogja (2016). Kenapa memutuskan untuk naik travel? Karena praktis. Tidak ada alasan selain itu. Berhubung masih awam, kami datang lebih awal sekitar jam 3 sore karena takut kehabisan tiket, padahal masih 1 jam menunggu keberangkatan!
Ice Cream in McDonald’s! Great idea!
Untunglah lokasi terminal persis di depan Swalayan ADA.

Inilah alasan kenapa saya betah dalam perjalanan, ada celah yang tidak bisa didapatkan dalam rutinitas dan kesibukan: membiarkan pikiran mengelana liar soal what do you want dan what you’ve done so far.
“Mas, turun di depan Apotik ya.” Lamunan saya berakhir di ujung jalan. Setelah kurang lebih 4 jam, kami turun dari mobil lalu berjalan sekitar 50 meter ke arah perempatan, dan dua motor sudah standby menjemput.
“Kak ini Yunita, dari Lubuk Pakam. Ehe.” Saya mengawali.
“Temen kuliah maksudnya.” Kemudian memperjelas.
Setelah berbasa-basi sedikit, kami memutuskan untuk makan malam. Di sela-sela bunyi klakson dan riuh rendah kendaraan yang lewat, kami berempat ngemper menikmati Jogja malam dan angkringannya di pinggir jalan. 
“Aku ajalah yang bawa motor nanti kak haha,” kataku pada Kak Monic bergurau.
“Ih Monic kalo bawa motor emang gitu,” Kak Mona menimpali.
“Tadi udah lampu merah lho, cari kesempatan ya kak ekekek.” Yunita yang juga di belakang tadi juga memperhatikan.
Kak Monic yang mendengarkan hanya membalas nyengir ‘’Hehehe’’

Sebelum merencanakan perjalanan ini, saya sempat menghubungi Kak Mona -yang sepertinya lain kali akan dibahas bagaimana kedekatan antara saya, Kak Mona, dan Kak Monic- untuk sengaja ke Jogja berbarengan. Karena perbedaan kesibukan dan hari libur, alhasil kita berangkat masing-masing dan tidak pernah menyangka akan membuat cerita ini menjadi ada.
Dengan segala upaya yang dikerahkan (halah), Kak Monic berhasil membuat 2 malam kami berfaedah terlelap di kostan Kak Denok (mudah-mudahan beliau masih ingat dengan saya haha).

“Salah! Usaha itu bisa menghianati hasil!” Pita suara Yunita mulai memberi aba-aba agar lebih keras lagi.  
“Enggak lho Yun! Berarti usahamu belum maksimal, makanya kau merasa gitu“ Saya tetap kekeuh.
“Aku tuh udah ngalamin, Nix!”
“Lho aku juga!” Jawab saya tak mau kalah.
Untungnya hanya ada bantal dan bukan perkakas dapur di sana, hingga kami memutuskan untuk tidak menggagalkan perjalanan di Jogja hanya karena perang mulut yang –oh, that’s not enough just for this chance-
“EEEH, Kenapa nih? Gimana-gimana?” Kak Monic dengan handuk masih di kepala masuk ke kamar menengahi.
“Dua-duanya nggak ada yang salah,“ kata Kak Monic setelah saya jelaskan apa yang baru saja kami debatkan.
Pagi itu, kami berempat yang telah selesai dengan segala urusan dan perdebatan, siap-siap menghirup Jogja dan menikmati sarapan yang ditawarkan Kak Monic.
“Udah pernah coba Gudeg nggak, dek?”
“Apaan tuh, Kak?”
Sarapan Gudeg, di pinggir jalan, di Jogja pula: mewakili apa yang disebut Autentik!

Rekomendasi dari Yunita yang kebetulan baru saja melihat postingan temannya di akun sosial media, memutuskan kami untuk menuju Taman Sari Yogyakarta sebagai tujuan pertama. Atas dasar ingin tahu bagaimana tempat pemandian raja dan ratu keraton zaman dulu, kami beranjak ke lokasi tanpa peduli bule-bule yang berhamburan panas terik yang menyengat. Taman ini dibuka pukul 08.00-17.00 WIB dengan harga tiket terbaru yang saya ambil dari sini, Rp5000 untuk wisatawan lokal seperti kami, dan Rp12.000 untuk wisatawan asing. 

Ala candeed sama Kak Mona jadi gini :v

Nungguin supaya sepi dan foto begini lumayan susah lho


Tuh kan banyak yang nebeng foto-_-

Tampak belakang foto yang sebelumnya

Tempat Pemandian Raja/Ratu

Maap ngga banyak spot foto yang diambil-_-


Foto yang agak beda dari kebanyakan

Kita bakal nemuin tempat ini di jalan keluar dari Taman Sari

Masyarakat juga beraktivitas di sana
Setelah bergantian menikmati objek-objek keraton yang menyadarkan saya betapa Indonesia tidak berkenan menolak lupa dengan sejarahnya, kami bergegas ke Malioboro menembus jalanan yang macet karena ramai oleh wisatawan yang juga memanfaatkan long weekend. Lantas apa bedanya Malioboro saat siang dan malam hari?
Jika banyak orang memilih malam untuk menikmati Malioboro dengan berbelanja, maka cerita kami akan sedikit berbeda. Di siang hari dengan suhu saat itu, dinginnya es buah di salah satu resto lebih menggugah daripada harus memilih pernak-pernik yang dijajakan dan menyusuri jalan terburu-buru karena menghindari panas. 

Bukan soal ‘di mana’ yang membuat saya menyadari makna perjalanan, tapi justru orang-orang yang ada dalam perjalanan itu. Penting untuk diketahui, mereka kelak berjasa menjadi tukang foto, memesan tempat makan, ngeboncengin selama di jalan, nemenin ke toilet, dan jadi temen ngobrol ekekekek. Malam terakhir di sana mengantarkan kami pada Taman Pelangi, persis di area Monumen Jogja Kembali yang hanya dibuka pada siang hari mulai pukul 08.00 WIB dari hari Selasa sampai Minggu. Kami tetap berempat, tapi kali ini tanpa Kak Mona yang sudah kembali ke ranah perkuliahan, melainkan Kak Denok. 

Instagramable banget sih ini

Fyi, semua gambar Presiden  Indonesia ada di sini
Mungkin Pak Jokowi menyusul deh ya:)

Berasa di mana coba?

Lampu-lampu di malam hari bikin suasananya makin cantik

Maafkan pemula yang nggak simetris fotonya:(

Masih pengin ke sini lagi. Really. 
Lalu kami pulang dengan menggenggam nikmatnya martabak dan cokles a.k.a minuman coklat es yang sedang trendy saat itu. Sambil menunggu pagi yang akan membawa kami keliling santai ke kampus Kak Monic, menikmati es kacang merah yang recommended dan kembali ke Semarang, saya terlelap merebahkan kepala.

Lupa nama tempatnya :v

Menikmati es kacang merah dan tempatnya yang cozy

Oya, ini Kak Denok :)
Dan apapun yang menjadi pertama dalam hidup saya, akan selalu ditulis dalam memori, termasuk perjalanan ini.
Untuk hal-hal yang membuat saya ingin melakukan perjalanan lagi karena perjalanan ini, terima kasih Kak Mona, Yunita, especially Kak Monic, dan Kak Denok a.k.a tuan rumah. I always miss that moment, and our trip. 

Tulisan ini dibuat dengan mengingat detil percakapan setahun lalu yang dimungkinkan ada improvisasi (baik ditambah maupun dikurangi). 

Nb: Mohon mengerti dengan kondisi foto yang belum stabil dan nggak lengkap, maklum perjalanan pertama, yang penting cekrek hahaha!

7 komentar:

  1. Jogja kok gak ke tempat batik yg banyak di malioboro ya, gw kira tadi bahas malioboro hehehe

    BalasHapus
  2. Waaah, ternyata sudah setahun lalu, ya. Selamat melanjutkan halaman (perjalanan) berikutnya, ya! Salam kenal dari Jogja. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahak! Kebiasaan saya menumpuk cerita perjalanan, jadilah ngaret diposting:""
      Salam kenal dari Semarang:)

      Hapus
  3. ebuset berani nian nix -____- semarang sama jogja deketan toh? btw kalo mau es kacang merah ke palembang gih ;) kalo ado cerita perjalanan lain aku mau baca sih hehe. eh aku baru nyadar kalo alamat blog kau udah beda. super sekali~

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwk semeter tok jaraknya ma, malah diledekin kalo blm pernah ke Jogja.
      WHOA emang es kacang merah di Palembang enak? Ado kok, monggo di cek blog aing hihi
      iyoo nih baru diganti :)

      Hapus
  4. enaklah deketan gitu :" es kacang merah tuh makanan (atau minuman?) khas palembang nix huehee. ohh yang di lembang tu yo? aku udah baca sih, aaa jadi pingin :"

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.