Jumat, 05 Mei 2017

Kenapa nyaman dalam zona nyaman itu salah?


“Nggak salah, tapi jangan menetap karena kita nggak bisa melangkah maju.”
“Sebenarnya nggak salah kok. Kenapa dibilang salah? Karena kamu nggak bisa melakukan hal yang belum penah dicoba dan bakal stagnan.”
“Untuk beberapa kondisi iya, tapi bisa juga enggak.”

Why cant we just stop a while and enjoy things in our own comfort zone?
Like that buildings, just stay inside
Adalah hal yang tersulit bagi saya jika harus keluar dari zona kebetahan yang bisa bikin hampir setiap orang enggan untuk beranjak. Lalu siapa yang salah jika kita nyaman dalam zona nyaman? Beberapa jawaban dari teman yang dianggap tidak mutlak mulai menjebak pikiran saya: sebenarnya salah/tidak?
Saya kerap ‘bermain aman’, tapi sering kali yang didapatkan justru kondisi tidak aman. Kenapa? Karena energi yang saya miliki hanya difokuskan untuk ‘asal bisa bertahan’ saja.

“Terjebak di zona (ny)aman”, pernahkah kalian berpikir bahwa zona tersebut hanya ilusi yang tak berujung? Kata Pradikta (A.k.a Travellersid), itu seperti halnya konsep “Quit your job and travel the world” atau berusaha “mencari yang terbaik”, padahal yang diterima saat itu sudah cukup baik. Jika “A” adalah zona nyaman dan kita terjebak, maka kita akan keluar dari “A” menuju “B” hingga “B” akhirnya menjadi zona nyaman yang baru. Hati-hati jika sudah terjebak dalam zona nyaman, karena itu kita harus keluar dari “B” menuju “C” hingga “C” menjadi zona nyaman baru, begitu seterusnya. Pertanyaannya adalah, mau sampai kapan? 
Lalu ada yang menimpali, “Sebelum kau merasa benar-benar nyaman, you should go.”

Image Source: Rintisan.id



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.