Kamis, 04 Mei 2017

Menjadi Pebinis, Upaya Meningkatkan Investasi Nasional dalam Memanfaatkan Kesempatan Emas


Indonesia telah memasuki Demographic Dividend
∞∞ Sejak Tahun 2010 ∞∞
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk Indonesia dalam Angka (Bappenas) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang mencapai 305,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010. Indonesia akan bergerak menuju windows of opportunity dalam menghadapi fase bonus demografi melalui pertumbuhan tenaga kerja produktif. Meningkatnya jumlah penduduk usia produktif menyebabkan menurunnya angka ketergantungan, yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh 100 orang penduduk usia produktif dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 46,9 persen pada periode 2028-2031.
Berdasarkan data hasil proyeksi penduduk oleh Indonesia dalam Angka (BPS), populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-64 tahun. BPS membedakan penduduk usia produktif menjadi 2 kategori, yang pertama Usia Sangat Produktif (15-49), dan kedua Usia Produktif (50 - 64). Jumlah perempuan usia sangat produktif mencapai 69,4 juta, lebih sedkit dibanding laki-laki yang mencapai 70,4 juta jiwa. Sedangkan untuk usia produktif (50-64), perempuan lebih banyak dengan 16,91 juta, sedangkan laki-laki hanya 16,9 juta jiwa.

Grafik: Penduduk Indonesia menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (2016 )
Sumber : Data Statistik


Rasio Ketergantungan Penduduk Indonesia Menurun
∞∞ Tahun 2020, 2025 dan 2030 ∞∞

Grafik: Rasio Ketergantungan Penduduk Indonesia, 1971–2016

Sumber : Data Statistik



Berdasarkan Statistik Indonesia, dapat dilihat tren rasio ketergantungan penduduk Indonesia terus menurun dan akan mencapai angka terendah pada tahun 2020, 2025 dan 2030, sehingga pada periode inilah yang disebut sebagai The Window of Opportunity untuk Indonesia (Adioetomo, 2005). Pada 2016, proyeksi Badan Pusat Statistik menyebut rasio ini hanya akan sebesar 48,4. Rasio ketergantungan ini merupakan perbandingan antara penduduk usia non produktif (penduduk 0-14 tahun dan 64 tahun ke atas) terhadap penduduk usia produktif (15-64 tahun). Artinya dengan angka sebesar 48,4, menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif menanggung penduduk usia non produktif sekitar 48-49 orang.

Sumber: UN Population Prospect Rev. 10 dan Mawson & Kinugasa, 2005
Pulau dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Bali dan Nusa Tenggara (55,1), dan yang terendah Pulau Jawa (45,9). Tiga provinsi dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (66), Sulawesi Tenggara (59,9) dan Maluku (59,3). Sedangkan tiga provinsi dengan rasio ketergantungan terendah adalah DKI Jakarta (40,3), Jawa Timur (44,0) dan Kalimantan Timur (44,8). Bonus Demografi atau keadaan tren rasio ketergantungan ini akan berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu dalam meningkatkan produktivitas dan pengembangan pasar domestik. Kelebihan penduduk usia produktif bisa dimanfaatkan untuk peningkatan pembangunan. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman negara lain yang sudah terlebih dahulu mengalami Bonus Demografi. 

Periode Bonus Demografi Tahun 1960-2000
Negara
Pertumbuhan  GDP/th (%)
Kontribusi (%) Bonus Demografi
terhadap pertumbuhan ekonomi
Cina
7.0
9.2
Korsel
7.3
13.2
Singapura
8.2
13.6
Thailand
6.6
15.5
Sumber: Mawson, A and Kinugasa T, 2005.
East Asian  Economic Development: Two Demographic Dividend


Bonus Demografi dalam Pertumbuhan Ekonomi
∞∞ 2 Saluran Utama ∞∞
Demografi tidak hanya terbatas pada masalah statistik kependudukan saja, tetapi pengaruhnya terhadap aspek-aspek kehidupan lainnya. Ross (2004:3), dan Adioetomo (2005:34-35) mengemukakan bahwa minimal ada tiga saluran utama dari pengaruh bonus demografi dalam pertumbuhan ekonomi, dua diantaranya yaitu:
I.    Peningkatan jumlah tenaga kerja (Labor Supply)
     Meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk usia produktif memberikan peluang untuk pertumbuhan ekonomi. Peluang tersebut tidak begitu saja terjadi, salah satu cara dalam menghadapi bonus demografi adalah memanfaatkan peningkatan jumlah tenaga kerja (Labor Supply). Secara demografis, peningkatan jumlah tenaga kerja ditandai dengan generasi anak - anak yang lahir di saat periode kelahiran tinggi yang kemudian disaat transisi demografi memasuki usia produktif dan masuk angkatan kerja dan proyeksi jumlah angkatan kerja hingga tahun 2020. 

Grafik: Jumlah Tenaga Kerja Menurut Kategori Lapangan
Sumber : Data Statistik


Sumber : Pusat Perencanaan Tenaga Kerja 2013

II.    Peningkatan tingkat tabungan nasional (Saving)
    Bonus demografi yang terjadi akan memicu pertumbuhan tabungan (Saving). Melalui tabungan ini dapat terbentuk akumulasi kapital untuk investasi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi yang akan memberikan konstribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi ini berhubungan dengan penduduk sebagai dampak dari adanya penurunan angka beban ketergantungan melalui pembatasan kelahiran (fertilitas). Dengan pembatasan kelahiran, maka jumlah penduduk usia produktif semakin meningkat. Oleh karena itu, adanya pergeseran distribusi usia penduduk dari penduduk usia non produktif ke penduduk usia produktif (atau usia kerja) sehingga investasi yang sebelumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk termuda dalam populasi dapat dialihkan untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan keluarga (Ross: 2004,1).

Angka Realisasi Investasi Indonesia 2009-2013 (dalam jutaan US Dollar)
DDI : Domestic Direct Investment
FDI  : Foreign Direct Investment
     Investasi yang meningkat di Indonesia dapat berpengaruh terhadap naiknya pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut menjadi bukti bahwa investasi merupakan salah satu indikator penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang diperkirakan telah menembus angka US$ 1 trilyun di tahun 2012, Indonesia telah menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Dengan resistensinya terhadap krisis keuangan global dibanding negara-negara tetangga, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,7% di tahun 2013 (www.academia.edu, 2012).
   Secara umum investasi adalah penanaman dana dalam jumlah tertentu pada saat ini untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa yang akan datang. Investasi merupakan salah satu faktor pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dari suatu  negara. Tingkat pertumbuhan investasi yang stabil dibutuhkan untuk mencapai suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan. Dalam memacu pertumbuhan ekonomi negara, pemerintah membutuhkan modal untuk pembiayaan. Untuk itu diperlukan sumber dana untuk modal pembiayaan perekonomian, salah satunya adalah dari investasi finansial yang kegiatannya dilakukan pada pasar keuangan.
     
Fakta di Indonesia
∞∞ Tingkat Pengangguran ∞∞
Pada 2015, Indonesia menempati posisi ketiga dengan tingkat pengangguran tertinggi di antara anggota ASEAN. Tercatat tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 6,2 persen, di bawah Filipina dan Brunei Darussalam yang masing-masing 6,5 dan 6,9 persen. Menurut laporan World Economic Forum 2015, Indonesia saat ini sedang kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menduduki kursi manajerial. Pada 2020, diproyeksikan Indonesia hanya mampu menyediakan 56 persen dari kebutuhan SDM untuk posisi manajer tingkat menengah.
              
Grafik: Tingkat Pengangguran di Negara Anggota ASEAN
Sumber : Data Statistik


∞∞ Jumlah Pengusaha ∞∞
Jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65 persen dari jumlah penduduk. Rasio tersebut jauh tertinggal dibanding dengan jumlah pengusaha yang ada di negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki pengusaha lebih dari 10 persen dari jumlah populasi. Idealnya jumlah pengusaha adalah 2 persen dari total populasi, tetapi untuk mencapai target pendapatan perkapita yang baik diperlukan 6,13 juta pengusaha atau sekitar 2,5 persen dari populasi. Saat ini jumlah wirausaha yang mapan sekitar 4 juta. Meskipun jumlah pengusaha di Indonesia masih minim, namun survei yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada 2013, menunjukkan bahwa keinginan berwirausaha masyarakat Indonesia adalah tertinggi kedua di ASEAN setelah Filipina.

Grafik: Rasio Pengusaha Terhadap Jumlah Penduduk di Beberapa Negara 2013
Sumber : Data Statistik

What Should Indonesia do?
Bonus Demografi diprediksi hanya akan terjadi satu kali di setiap sejarah suatu negara. Sangat disayangkan apabila Indonesia tidak berhasil memanfaatkan kesempatan emas (windows of opportunity)  ini. Jumlah pengusaha yang masih minim dan pengangguran yang tinggi menjadi tujuan utama yang harus diselaraskan dalam mengahadapi fase bonus demografi demi memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Menjadi pebisnis atau pengusaha dengan membuka usaha baru merupakan pilihan yang tepat untuk dimanfaatkan agar dapat meningkatkan investasi dan tabungan masyarakat.
Lalu apa yang harus diupayakan demi meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia?

Menjadi Pebisnis Menghadapi Bonus Demografi
∞∞ Sejak Tahun 2010 ∞∞
Sumber: Proyeksi Nilai Pertumbahan PDB Indonesia oleh IMF

Ekspansi ekonomi berikutnya diharapkan dapat mencakup pertumbuhan yang lebih inklusif dengan angka PDB per kapita yang diharapkan dapat tumbuh sebanyak 4 kali lipat di tahun 2020,  berdasarkan laporan Standard Chartered Report. Indonesia kini termasuk di dalam negara MINT (Mexico, Indonesia, Nigeria and Turki), yakni negara-negara dengan perekonomian paling menarik bagi investor jangka panjang karena karakteristik demografisnya. Bonus demografi berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita melalui investasi yang dapat berimplikasi pada penciptaan lapangan kerja baru. Berikut upaya yang pernah dilakukan dalam menghadapi bonus demografi sejak tahun 2010:

a.     GKN (Gerakan Kewirausahaan Nasional)
GKN merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah wirausaha baru di Indonesia. Program tersebut merupakan gagasan Kementerian Koperasi dan UKM dalam meningkatkan jumlah wirausaha Indonesia menjadi 2% dari populasi penduduk. Salah satu bentuk dukungan kepada para pelaku usaha baru yang ingin merintis usaha adalah menyediakan modal awal. Kementerian Koperasi dan UKM menganggarkan dana khusus untuk modal awal bagi wirausaha pemula.
GKN adalah ajang kompetisi bagi wirausaha pemula dalam menyiapkan proposal usaha terbaik dalam (Kemenkop & UKM, 2013). Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan wirausaha pemula yang berhak menerima fasilitas pembiayaan atau modal awal maksimal Rp25 juta per orang pada tahun 2014 sebanyak 2.500 orang dari 34 provinsi. Seluruh lapisan masyarakat diperbolehkan mengikuti lomba proposal usaha tersebut, baik start up bussines idea ataupun continuous bussines idea untuk usaha berjalan maksimal satu tahun namun masih membutuhkan tambahan modal dengan kriteria peserta setiap individu hanya berhak mengajukan satu proposal usaha.


GKN dari tahun 2014-2017

Menteri Koperasi dan UKM Kabinet Indonesia Bersatu II, Syarief Hasan menyatakan bahwa GKN mampu menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Angka pengangguran di Indonesia tahun 2013 telah berada di bawah angka 5 persen karena adanya GKN. Selain mengurangi pengangguran, GKN juga menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu naik hingga mencapai angka 6 persen. Atas prestasi tersebut, Indonesia dinobatkan menjadi negara terbaik kedua setelah Cina (finance.detik.com, 2013). Menurut catatan Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, jumlah wirusaha nasional mencapai 1,65% dari total 245 juta penduduk Indonesia.
Pada Juni 2014, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kulon Progo mengadakan acara sosialisasi GKN dan Pembekalan Wirausaha Baru (koperasi.kulonprogokab.go.id, 2014).  Kegiatan tersebut diikuti oleh masyarakat usia produktif, yaitu sebanyak 33 orang dengan kelompok usia dibawah 30 tahun, khususnya bagi mereka yang terkena dampak pembangunan bandara dan peserta seleksi Petugas Penyuluh Koperasi lapangan (PPKL).
Disamping program ini, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kulon Progo juga menerima proposal pengembangan usaha bagi masyarakat yang akan mengembangkan usaha sehingga apabila ada masyarakat yang akan mengembangkan usahanya dapat mengajukan proposal melalui Dinas Koperasi dan UMKM yang nantinya akan dilaksanakan fasilitasi sesuai dengan prosedur yang ada.

b.     Pengembangan Industri Padat Karya
Tingkat investasi yang stabil akan memacu pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya pengembangan industri padat karya di beberapa wilayah di Indonesia. Padat karya adalah suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat (penganggur, setengah penganggur dan miskin) melalui kegiatan pembuatan atau rehabilitasi infrastruktur sederhana maupun kegiatan produktif lainnya dengan memanfaatkan dan mengoptimalisasi sumber daya lokal yang tersedia dalam rangka meningkatkan produktivitas, aksesibilitas, dan kesejahteraan masyarakat (www.ilo.org, 2014). Program Padat Karya merupakan program yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sosial masyarakat.


 Industri Padat Karya (1)

Industri Padat Karya (2)

Sektor padat karya seperti industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki hingga industri pengolahan ikan yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Menurut BPS pada Agustus 2014, jumlah penganggur terbuka sebanyak 7,24 Juta orang atau sekitar 5,94 persen. Angka ini menunjukan kenaikan jika dibandingkan Februari 2014, dimana jumlah penganggur terbuka mencapai 7,15 juta orang atau sekitar 5,70 persen. Sektor padat karya harus dipertahankan untuk menjaga agar tingkat pengangguran tidak meningkat dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi maupun industri secara nasional. Industri padat karya memberi kontribusi sekitar 30 persen pertumbuhan industri nasional. Adanya industri padat karya mampu menggerakkan roda perekonomian dan membuka peluang kerja untuk mengurangi pengangguran yang ada.
Beberapa kebijakan yang dibuat pemerintah diterapkan untuk mendorong tumbuhnya industri padat karya, yaitu melalui penyelenggaraan pelayanan terpadu untuk memberikan kemudahan berinvestasi dan memperbanyak program pelatihan bersertifikat. Adanya tenaga kerja yang lebih terampil dan bersertifikat tersebut diharapkan dapat sesuai antara produktivitas dengan gaji yang diterima. Untuk meningkatkan kualitas angkatan kerja muda, Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) menggalakkan 276 Balai Latihan Kerja (BLK) yang terdiri atas 14 BLK milik Kemnaker dan 262 Unit BLK milik pemda provinsi dan kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia (www.antaranews.com, 2015). Di Indonesia juga telah tersedia kurang lebih 8.039 lembaga pelatihan kerja, baik milik pemerintah maupun swasta. Selain meningkatkan kompetensi, keberadaan BLK dapat mendorong percepatan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran di pusat dan daerah. 

Referensi Pendukung:
http://databoks.co.id
http://www.tribunnews.com/
http://www.depkop.go.id
http://koperasi.kulonprogokab.go.id/
http://www.academia.edu

Tulisan ini diiikutkan dalam kompetisi menulis Kenali Indonesia dengan Data

2 komentar:

  1. Wah, sejak meninggalkan bangku kuliah saya rasanya ga update lagi dengan grafik pertumbuhan Indonesia lg. Tp yg ke 2 itu maksudnya ketegantungan dengan apa ya, Onix?

    BalasHapus
  2. Tapi saya heran mbak, itu di Brunai penganggurannya tinggi tetapi kok bisa sejahtera gitu dn jarang timbul pelemik...apa karena mereka di hidupi negara ya ...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.