Kamis, 25 Mei 2017

Perkembangan Dunia Digital di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Desain Grafis

“The creative adult is the child who has survived.”― Ursula K. Le Guin

Suatu hari Tarzan mendengar suara asing melebihi kekuatan peluru yang gaungnya berlangsung hanya sepersekian detik. DUARR!! Ternyata itu Clayton seorang pemburu yang baru saja melemparkan granat persis ke dekatnya. Ia di sewa untuk melindungi Profesor Porter dan anak gadisnya Jane yang sedang mengumpulkan riset di hutan. Tarzan yang merasa terusik segera mendatangi Clayton ternyata telah pergi meninggalkan jejak. Namun Tarzan tidak tinggal diam, lantas mengejarnya, kemudian terhenti karena mendengar suara jeritan seorang perempuan di ujung hutan. Tampaklah keluarga Babun yang marah dan menyerang Jane yang tidak punya benteng perlawanan.
“Apa yang baru saja terjadi?” Tarzan bertanya ketika ia telah menyelamatkan Jane dan membawanya ke tempat yang aman. Napas Jane terengah, belum diatur sepenuhnya. Setelah stabil ia menjawab “Aku baru saja melihat bayi Babun dan menggambarnya di sini.” Lantas Jane menunjuk komputer tablet buatan Apple Inc ditangannya yang masih utuh.
“Lalu mengapa kau diserang?” tanya Tarzan.
“Bayi Babun yang melihat, langsung merampasnya karena ia sangat menyukai desain itu. Tidak mungkin aku memberikannya begitu saja.” Tentu Tarzan semakin bingung.
Desain Babon oleh Jane
“Bayi Babun itu menangis sejadinya, lantas keluarganya menjadi marah.“ Jane melanjutkan.
“HAHAHAHA” Tarzan tertawa lepas mendengar kalimat penutup Jane. Wajah Jane menyiratkan sebuah pertanyaan “Apa yang lucu?”
“Untuk apa kau mendesain gambar bayi Babun? Kenapa tidak aku saja?” Tarzan malah balik bertanya. Bukannya dijawab, Jane justru menarik lengan Tarzan untuk segera pergi dan menghampiri tendanya yang berjarak 300 meter dari tempatnya saat itu.

“Hai ayah.” Jane menyapa ayahnya yang sedang sibuk melakukan riset, lalu mengambil laptopnya dari dalam tenda. Tarzan yang asing dengan keberadaan kedua ‘orang kota’ itu terpaku. Jane menunjukkan desain grafisnya dalam laptop yang baru-baru ini selesai dikerjakan. “Apa ini,” batin Tarzan.
Seperti bisa membaca gelagat Tarzan yang kebingungan, Jane mengawali “Aku dan ayahku ke sini sedang meneliti jenis mamalia, karenanya aku membuat desain ini.”
“Oh ya, aku seorang blogger SEO, dan ini penting untuk dijadikan konten kreatif di tengah dunia digital yang sedang berkembang.” Jane melanjutkan.
“Sedang apa kau Jane?” Ayahnya yang masih berkutat dengan atribut elektronik lengkap itu ternyata belum menyadari keberadaan Tarzan sedari tadi.
“Ayah, ini Tarzan. Ia yang menyelamatkanku dari serangan Babun tadi.”
Sementara Jane mengenalkan, Tarzan justru sibuk mengutak-atik Portable Electric Genset di sisinya. “Haha! Itu untuk menyalakan alat elektronik di sini, Tarzan, belum ada listrik yang memadai.” Jelas saja, Tarzan makin heran, wajahnya menyiratkan penasaran.
Ketika mereka bertiga asik berbincang soal desain grafis yang membawa Tarzan untuk mengetahui lebih banyak, Clayton datang secara mengejutkan. Disodorkan ujung senapannya ke arah Tarzan, “Heei siapa kau berani-beraninya mendekati profesor?! Kalian cepat masuk ke tenda!” Perintah Clayton sok tahu.
“Apa ini Clayton, turunkan senapanmu!” Ayah Jane menatap tajam ke pemburu licik itu. Tarzan hanya diam, lalu kembali fokus pada penjelasan Jane dan ceritanya.
“Banyak blogger yang mengupayakan tulisannya dengan menambah desain agar lebih menarik. Aku sendiri punya versi berbeda untuk memperkaya tulisan, walaupun tidak juga lebih baik dari mereka.” Ungkap Jane merendah, padahal desain yang ditunjukkannya memiliki kualitas di atas rata-rata.
Profesor Porter selaku guru besar di Savannah College of Arts and Design (SCAD), Georgia, menimpali “Dengan fungsinya untuk mengkomunikasikan berbagai pesan melalui medium visual, desain grafis sudah berperan dalam membentuk pola interaksi dalam kehidupan masyarakat. Jejaknya lekat dengan konteks masyarakatnya.”
“Ayah...” Jane mencoba mengingatkan ayahnya.
Profesor Porter yang sedang asik mengakumulasi data statistik melanjutkan, “Dengan memahami keterkaitannya dari masa ke masa, kita tak hanya mempelajari perjalanan desain grafis itu sendiri, melainkankan juga seluruh unsur-unsur di luar dirinya yang saling terkait satu sama lain.”
“Ayah, Tarzan tidak akan mengerti itu, tolonglah.” Ujar Jane mengeluh.
Kali ini Tarzan tidak hanya bengong, tapi ia mengamati setiap kalimat ayah Jane lekat-lekat.

Ketika dirasa Jane penjelasan ayahnya begitu berat untuk dicerna langsung oleh Tarzan, lantas ia segera mengalihkan perhatian ke layar di iPad miliknya.
“Nah, untuk bisa menghasilkan konten dengan tampilan visual yang kreatif, tentu butuh proses, Tarzan. Dengan mengemas poin penting dalam tulisan agar tidak monoton, maka aku jadikan ke dalam satu desain menarik. Selain mempermudah, ini juga efektif supaya pembaca tidak melewatkan poin penting yang disampaikan.” Jelas Jane panjang lebar.
Untuk pertama kalinya, Tarzan berkomentar, “Efektif?”
“Tidak memakan waktu banyak,” Ayah Jane menjawab. Seakan kena sindiran, Jane menghela napas, mengernyitkan kening. Tarzan bertanya lagi “Lalu itu apa?” sambil menunjuk gambar yang bergerak di layar.
“Oh ya, itu animasi. Aku selalu suka animasi. Beberapa kali tulisanku yang pernah dipublish, ada animasi ditambahkan supaya terlihat lebih cantik,” kata Jane menjelaskan.
“Cantik? Seperti kamu dong?” Wajah Jane merona, ia yakin Tarzan jujur memuji. Demi membuyarkan situasi yang canggung, Jane kembali pada ceritanya.
Tarzan dibesarkan di dalam hutan, ia tidak mengenal digital sejak kecil, terlebih desain visual. Tidak ada yang pernah tahu apa passion yang ia miliki, namun ketertarikannya semakin terlihat ketika Jane kembali menunjukkan karya-karyanya.
“Kau tau, ini didesain sesaat sebelum aku bertemu Bayi Babun tadi,”
“Tantor dan Terk?” Kata Tarzan kaget.
“Kau mengenalnya?” Jane bertanya.
“Tentu saja! Itu temanku. Kenapa bisa terlihat persis dengan aslinya? Ku kira mereka masuk ke dalam layar.” Pertanyaan Tarzan yang konyol lantas membuat Jane tertawa terbahak.
“Tentu tidak Tarzan, proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan aspek lainnya, yang biasanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya.” Tarzan memiringkan kepalanya, tampak berusaha menerjemahkan kalimat Jane. 
“Ahahaha, tak perlu dipikirkan. Eh iya, lusa kami akan ke Indonesia. Aku akan menemui Yolanda Santosa dalam workshopnya soal branding dan motion graphic. Beliau sukses dengan debutnya di film box office, The Hulk. Dan aku ingin mengajaknya kerjasama soal desain Bayi Babun ini. Menarik kan?” Pertanyaan Jane hanya dibalas dua kali anggukan oleh Tarzan. Tentu ia tidak memahami sepenuhnya, tapi ia penasaran. “Indonesia?”

“Ya, berdasarkan data 99designs.com, laman pasar desain grafis terbesar di dunia yang bermarkas di Amerika Serikat, saat ini tercatat lebih dari 225.000 desainer dari 192 negara yang menjadi anggota. Dan yang mengagumkan, sekitar 17.000 di antaranya berasal dari Indonesia.”
“Danton Sihombing itu mahasiswa saya. Ia baru saja menyandang gelar master bidang desain grafis dan pernah berkarya di sejumlah perusahaan dunia seperti Allied Graphic Arts (AGA), New York City.” Celetuk ayah Jane yang ternyata mengikuti pembicaraan mereka dari awal.
“Kenapa harus Indonesia?” Tanya Tarzan ringkas.
“Tentu saja. Banyak desainer grafis Indonesia sudah menancapkan panahnya di pasar industri kreatif. Kiprah itu membuktikan bahwa kualitas mereka sangat mumpuni di dunia.” Tambah Profesor Porter serius.
“Belum lagi dengan Christiawan Lie. Kabarnya ia berhasil menembus industri komik mainstream AS. Bayangkan saja, sudah ada 40 komik yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan 25 tokoh karakter komik.” Profesor Porter begitu semangat menceritakan.
“Apa kau bisa mengajariku tuan? Barang sedikit saja, sepertinya asik untuk dipelajari.” Tarzan memberanikan diri bertanya.
“Oh tentu saja. Kemarilah.” Ajak ayah Jane mengajari.
Jane yang memperhatikan hanya senyum-senyum sendiri, ia senang karena tampaknya sang ayah menerima dengan baik Tarzan yang ingin belajar.
Di sisi lain, Jane tampak sedang mengedit video untuk menambah penjelasan materi di blognya. Tentu saja agar terbayang oleh pembaca, apalagi banyak pengunjung di blog Jane yang suka menonton. Jika sedang di internet area, Jane kerap mengunjungi situs freepik.com yang isinya template-template unik untuk desain.
“Tarzan, bagaimana kalau kau ikut ke Indonesia?” Ujar profesor mengejutkan Jane, juga Tarzan. Tawaran tersebut semata-mata bukan ajakan biasa, profesor menilai kalau Tarzan memiliki ketertarikan dan passion di bidang desain grafis.
“Kau bisa belajar banyak di sana. Ada kursus Graphic Design DUMET School yang akan mengajarimu mendesain logo, brosur, majalah, dan lain-lain.” Jelas profesor meyakinkan.
“Tentu dengan kelas pembelajaran yang tak kalah menarik seperti Photoshop, Illustrator, InDesign, dan Flash. Cocok sekali untukmu yang masih pemula.” Tambahnya.
“Oh ya?!” Tarzan tampak tertarik.
“Ya, akses untuk belajar di DUMETSchool sepuasnya sampai kau bisa dan kelak memiliki hasil karya.” Tarzan mulai menimbang-nimbang. Jane tentu bersemangat mendengar ajakan ayahnya, ia ikut meyakinkan Tarzan. “Lagipula perkembangan dunia digital di Indonesia saat ini sangat pesat. Peluangnya adalah, kau bisa memanfaatkan dunia digital sebagai wadah untuk mengeksplorasi desain grafis lebih lagi.”
“Lantas bagaimana dengan Kerchak, Ibu, Tantor dan Terk?” Tarzan tentu khawatir.
“Tarzan, di sana kau akan mengenal teknologi dan menemukan jati dirimu, percayalah.” Kalimat Jane mulai mengusik pikiran dan hatinya.
“Dan industri telekomunikasi saat ini tengah menghadapi tantangan yang signifikan. Pasar yang terus berubah berdampak terhadap meledaknya pengguna data internet, yang ternyata tidak menghasilkan pendapatan. Berita baiknya, ada peluang bisnis baru yang bisa dimanfaatkan, kita bisa menjadi partner, Tarzan. Membangun website berbasis commerce misalnya.” Bujuk Jane dengan teorinya yang bikin Tarzan terdiam karena bingung.
“Jane...” Kali ini ayah Jane yang mengingatkan. 

Perkembangan Dunia Digital di Indonesia
Berdasarkan riset We Are Social dan Hootsuite 2017, Terdapat 132.7 juta pengguna aktif internet di Indonesia tumbuh 51 persen dalam kurun waktu satu tahun. Angka ini merupakan yang terbesar di dunia, bahkan jauh melebihi pertumbuhan rata-rata global yang hanya 10 persen. Di posisi kedua dan ketiga adalah Filipina dan Meksiko, keduanya memiliki angka pertumbuhan sebesar 27 persen. 
Source: Kunjungi laman
Di sisi lain, pengguna smartphone di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, yakni setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Tingginya pertumbuhan pengguna internet tersebut merupakan potensi yang baik untuk kemajuan ekonomi digital Indonesia. Pertumbuhan pengguna internet juga berimbas pada peningkatan bisnis e-commerce dan bisnis online lainnya. Dunia digital akan bisa menjadi game changer karena 50 persen pemegang ponsel bisa mengakses aplikasi. Hal ini tentunya dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja yang dapat menurunkan angka pengangguran di Indonesia.
Source: Kunjungi laman

Memulai Bisnis dengan Desain Grafis
Berbicara soal bisnis online, teknologi digital sangat luas cakupannya, termasuk penyediaan jasa desain grafis. Demand yang tinggi disebabkan oleh promosi produk yang membutuhkan tampilan menarik dan ditunjang dengan tools computer yang semakin canggih. Dengan memanfaatkan pertumbuhan internet, bisnis ini bisa dimulai dengan memasarkannya di beberapa marketplace yang ada di Indonesia, seperti Sribulancer, 99designs, dan Fiverr.
Source: Kunjungi laman
Dalam hal ini kemampuan marketing dibutuhkan untuk memasarkan jasa desain grafis agar mudah ditemukan oleh orang lain. Selain marketplace, media sosial dapat dijadikan wadah pendukung seperti seperti Website, Facebook, Instagram, Google Plus, Linkedin, dan lain-lain. Walau peluang berbisnis online melalui desain grafis terbilang cukup besar, ada langkah-langkah untuk persiapan awal yang harus dilakukan, diantaranya yaitu:
1. Skill Desain
Tidak dapat dipungkiri bahwa, keahlian dalam menggunakan program dan perangka lunak yang berhubungan erat dengan dunia desain grafis adalah modal utama dalam menjalankan usaha. Beberapa program pengolah grafis yang paling sering digunakan ialah Adobe Illustrator, Beneba Canvas, CorelDraw, Macromedia Freehand, Metacreations Expression, Adobe Photoshop, Corel Photo Paint, Macromedia Xres, Metacreations Painter, dan sebagainya.
2. Update Tren
Permintaan pelanggan dengan detil-detil desain yang rumit adalah hal yang sangat subjektif. Dunia digital akan membawa masyarakat pada selera desain yang semakin sulit. Untuk itu, perbaharui dan perdalam pengetahuan mengenai tren terbaru dalam dunia desain grafis. Hal ini dilakukan agar tingkat kreativitas yang tinggi akan menjadi nilai plus, ditambah jika memberikan sebuah terobosan baru (menjadi trend setter).
3. Komunikasi Interpesonal
Kemampuan komunikasi interpersonal yang baik diperlukan untuk mempromosikan diri sendiri. Saat bernegosiasi (karena tidak ada patokan pasti mengenai tinggi rendahnya harga suatu layanan desainer grafis), maka kita dapat menggunakan kemampuan ini untuk mendapatkan profit.

Memulai Desain Grafis?

What You See Is What You Get
Seorang desainer grafis pasti memikirkan elemen seperti foto, font, warna, bentuk, ilustrasi, tekstur untuk mengekpresikan melalui teknologi dan menyampaikan pesan di beragam media, seperti majalah atau iklan. Siapa pemikir kreatif dibalik penempatan sebuah gambar? Tentu Desainer Tata Letak. Siapa yang bekerja dengan seni digital atau tinta dalam menyampaikan sebuah cerita? Pastinya Ilustrator. Lantas, siapa yang bikin kita betah berselancar di internet karena efeknya yang menarik? Dialah Desainer Flash. Tanpanya sebuah website hanya surat kabar tempo dulu yang dibiarkan berlipat. Pengaruh para komunikator kreatif saat ini sangat besar, mereka adalah seniman yang memperindah atau menyempurnakan sebuah gambar untuk hasil yang maksimal dalam penyampaian pesan maupun visual.
Apa yang kamu lihat itu juga yang kamu dapatkan, lihatlah yang baik-baik, maka kamu akan mendapat yang baik pula
Eh tapi jangan salah, desain grafis tidak melulu soal iklan, brosur, desain kemasan produk, dan sebagainya. Desain grafis merupakan yang menjadi produk jasa unggulan berada dalam klasifikasi khusus yaitu kemampuan membangun hasil cetak grafika yang WYSIWYG (what you see is what you get) dengan didukung oleh metode kalibrasi menggunakan platform komputer mac dan windows. Kegunaan produk grafika dengan teknologi ini adalah untuk expo produk dengan corak visual yang khas seperti brosur marmer atau batu alam, katalog lukisan, dan fungsi – fungsi lainnya yang membutuhkan ketepatan warna tinggi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Fungsi produk ini adalah untuk melakukan manajemen produk barang yang biasanya akan dikirim ke pasar luar seperti kerajinan dan karya seni. Teknologi barcoding dan tagging yang ada telah digunakan oleh hampir seluruh trading company berorientasi ekspor di Indonesia dalam kurun waktu lebih dari 17 tahun.

Kesimpulan

Indonesia bisa mengambil manfaat dari perkembangan dunia digital saat ini. Lima tahun lalu perkembangan bisnis digital masih minim, namun saat ini terbukti masyarakat sudah familiar dengan internet. Bagi Raymond Siva, CEO Edelman Indonesia, korporasi kini harus menjemput konsumen dengan layanan digital, tidak sekadar menunggu konsumen. Dengan tingkat produk domestik bruto (PDB) dan jumlah penduduk yang terbesar di kawasan ASEAN, pasar e-commerce Indonesia berpeluang untuk tumbuh semakin besar. Pentingnya perkembangan digital bagi perekonomian Indonesia ini menjadi salah satu bahasan dalam “Indonesia Summit 2016”, tak hanya bagaimana bisnis itu berkembang, tetapi mengubah model bisnis di Indonesia untuk terus tumbuh. Desain grafis tentu berperan penting menjadi salah satu faktor untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis di Indonesia. 


Setelah mantap dengan peluang desain grafis dalam perkembangan dunia digital di Indonesia saat ini, Tarzan akhirnya memutuskan ikut bersama Profesor Porter dan Jane. Ini dilakukannya demi mengejar passion.
*END*


Data Pendukung:
www.hotcourses.co.id

bpptik.kominfo.go.id
databoks.katadata.co.id
www.dumetschool.com

1 komentar:

  1. bagusss bangeet desain grafis yg dibuat sama janee. lucuu :)

    sepakaat banget kalau desain grafis membuat blog lebih hdp dan berbiara :) jd makin semangaat belajar desain grafis hehehe. . . penasaran juga pengen ikut kurus desain grafis di dumet tp jauhh di jakartaa. coba kalau d sbya pasti cobain free trialnyaa
    .hehehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.