Rabu, 05 April 2017

Siapa Lagi Kalau Bukan Ibu?

Jika saja ada yang bertanya pada saya, siapa yang menginspirasi hidupmu?
Dialah wanita yang tak lagi muda, tetapi tak pernah lupa untuk menyampaikan kecintaannya yang tulus terhadap saya dan anaknya yang lain.
Ibu.
Dialah Ibu
Kartini gemar membaca dan menulis, sangat antusias terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan rasa keingintahuan yang sangat besar. Ibu juga begitu.
Kartini tidak pernah patah semangat, beliau mampu memperjuangkan pendidikan dan martabat dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ibu juga begitu.
Wanita yang memberi saya keberanian tidak pernah lupa memperjuangkan cita-cita anaknya, bahkan mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan anaknya dari kebodohan.

Kartini ingin selalu mengajarkan kaum perempuan untuk berani dari segala keterbelakangan. Dengan pengorbanan yang tulus, ia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Ah, Ibu juga tidak kalah dari itu. Buktinya, saat ini saya bisa menyampaikan frasa tentang Kartini. Siapa yang mengajari saya kalau bukan Ibu? Saya ingat betul, ketika masih kecil, ia tidak pernah lupa mendidik saya agar bisa membaca, menulis, hingga mengenal sejarah.

Kartini pernah bilang “Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama di wajah yang kita cintai”. Jauh sebelum saya mengetahuinya dari Kartini, Ibu lah yang memberitahu saya tentang ini. Ibu mengajarkan saya banyak hal, untuk selalu santun, menghargai orangtua, dan mencintai keluarga.
Surat Kartini kepada Ny. Abendannon pada 12 Desember 1902 lalu mengingatkan saya pada nasihat Ibu untuk selalu teguh sungguh dan sanggup menopang diri sendiri. Kata Ibu saya harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, bahkan nanti untuk menyekolahkan adik saya.

Perjuangan Kartini tidak terlepas dari cita-citanya untuk mengajarkan moral kepada bangsa. Bangsa yang lemah adalah ia yang jauh dari ajaran agamanya. Kartini yang selalu mengajarkan kepada kita tentang kalimat ini “Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia. Kami berpegangan teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin rIbut pun menjadi sepoi-sepoi” mengingatkan saya akan perintah Ibu untuk selalu setia dan berdoa kepada Tuhan. Seberat apapun masalah yang kamu hadapi, ingatlah bahwa ada Tuhan yang lebih besar dari masalahmu, begitu katanya.

Lantas, ketika saya tahu Kartini pernah bilang bahwa tiada awan di langit yang tetap selamanya, tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca, karena sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan, saya tersenyum. Ibu sering mengomeli saya, menegaskan bahwa ada pelangi setelah hujan, karena hujan yang membawa petir tidak selamanya akan menakutkan, ada keindahan setelahnya.

Jika saja ada yang bertanya pada saya, siapa sosok yang paling kamu sayangi dalam hidupmu?
Kartini.
Ibu adalah Kartini bagi saya.
Ia lebih dari mengajarkan habis gelap terbitlah terang. Jika bagi Kartini, perempuan sebagai pendukung peradaban dan yang akan mempertinggi derajat budi manusia, maka bagi Ibu, “Anak-anakku harus sekolah tinggi-tinggi, rumah kita dari unggun timbun tak apa, asal kalian berhasil semua.”

Jika semangat saya hendak padam, Ibu yang menyalakannya lagi. Jika jemu sukar disembuhkan, atau kelopak pada mata sudah menghitam, ia selalu ada untuk mendengar cerita saya, menanggung setengahnya.  
Ibu tidak pernah menuntut saya ini itu, lakukanlah yang kau bisa. Menakar air laut dengan lekuk tangan? Lelah kau dIbuatnya. Mengukur langit dengan jengkal? Apalagi. 
Tujuanmu sekarang bukan lagi dadu yang dilempar berulang, lakukan hal yang pasti dan teruslah bermimpi selama engkau dapat bermimpi. Itu yang Ibu bilang.
Pernahkah kau mendayung sampan ke muara di saat angin ribut menderu karena intuisimu?
Ibu pernah.
Ia tidak berhenti. Siang malam bekerja di tengah runtunan masalah tidak menjadi alasannya untuk berhenti mencukupkan anak-anaknya. Bukan soal keharusan, tapi naluri Ibu yang bergerak untuk itu.
“Ingat satu hal ya Kak, tetaplah mengasihi walaupun kasih itu memberi luka padamu,” begitu katanya dalam percakapan panjang lewat telepon di suatu malam. Jika ada orang lain di luar sana yang butuh pertolongan, kita tidak boleh lupa mengulurkan tangan, entah itu mereka yang tidak kita kenal. Percayalah pada lingkaran kebaikan, akan ada saatnya orang lain menolong kita saat kesulitan.

Dan setiap jerih lelahnya tidak untuk ditimbang dengan neraca. Karena tak bisa.
Acap kali saya jenuh di tanah perantauan, saya selalu merindukannya, karena Ibu adalah rumah yang terus membawamu ingin pulang.  
Jika demikian, masih beranikah untuk saya kecewakan?

Darinya saya mendapat didikan pada mula sekali. Ibu mengingatkan saya pada filosofi Bunga Lili. Melambangkan kesucian, kemuliaan, dan spiritualitas. Begitu indah kasih Ibu kepada saya, begitu sederhana kasihnya.
Saya ingin memberi Bunga Lili yang tersedia di Elevenia untuk Ibu, karena ia yang selalu menginspirasi saya saat mempunyai impian, ide, keinginan, atau apapun yang menjadi keyakinan untuk diwujudkan.


Lilies Garden - Aurefleuri@LoviDovi Rp 480.000
Kategori Service > Florist and parcel

  
Terima kasih, Ma. 
Regards,

Putrimu yang tidak pernah berhenti menyayangi dan mendoakanmu. 


*Cerita ini diikutkan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Bahkan Ibu udah jadi hadiah terindah ya kan:"

      Hapus
  2. Ibu adalah Sosok Paling Berharga yang diberikan Tuhan kepada Saya .....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.