Minggu, 15 Juli 2018

Bola Raksasa Diarak di Simpang Lima: Ini Cara Sedulur Semarang Mendukung Asian Games 2018

Hari minggu lalu, kira-kira jam setengah enam pagi, saya melaju dari kost ke Stasiun Poncol Semarang untuk menjemput adik yang tiba jam enam di Semarang. Hanya sedikit saja waktu yang saya butuhkan untuk tidak terlambat.
Kakak udah di pintu luar 
Di luar nian kan?
Iyo
Demikian isi chat room saya dengan adik. 15 menit berlalu setelah petunjuk dari pengeras suara yang mengatakan kalau kereta dari Jakarta sudah tiba. Belum juga dia kelihatan, saya panik.
Dimano sih?
Ee kan di pintu luar, ini aku udah di pinggir jalan nah
Hadeh
Dipikirnya saya menunggu di pintu terluar setelah area parkir, hahaha. Tapi berhubung sudah di Semarang, itu tidak lagi dipersoalkan. Kami pulang ke kost mengambil rute seperti biasa mengambil jalur Simpang Lima. 
Kok jalan ditutup. Pikir saya waktu itu.
“Apo tuh kak rame-rame?” Si adik yang saya bonceng, bertanya.
Halah, CFD. Hahaha. Saya tertawa.
Di jam sepagi itu di hari minggu, saya memang jarang sekali melewati area CFD (car free day), sampai lupa kalau jalan ditutup. Tapi ada hal yang menarik perhatian kami. Ada bola raksasa yang digulir rame-rame!
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 08 601 1919642 bola-raksasa-diarak-keliling-simpang-lima-semarang-untuk-sambut-asian-games-2018-co5209oQu3.jpg
Bola Raksasa Memeriahkan Asian Games 2018 di Semarang
(Foto: Taufik Budi/SindoTV)
Kemeriahan Asian Games XVIII 2018
Euforia Asian Games sudah sangat terasa di Jawa Tengah, apalagi di Kota Lunpia ini. Ajang olahraga se-Asia yang bakal diikuti 45 negara akan berlangsung tanggal 18 Agustus- 02 September di Jakarta dan Palembang.

Diselenggarakan empat tahun sekali, masyarakat Indonesia tentu tidak mau melewatkannya. Menjadi salah satu pesta rakyat, ajang bergengsi ini menghadirkan pembalap downhill putri dari Semarang yaitu Tiara Andini Prastika yang berusia 22 tahun. Untuk pemanasan Asian Games, ia mengikuti Kejuaraan Asia MTB 2018 di Filipina dan meraih medali perunggu. Selain Tiara, ada Dimas Arif Fauzi dan David Aldi (bola tangan), Dewi Setyaningsih (loncat indah), Hening Paradigma (paralayang) dan Lavinia Tananta (tenis lapangan) yang juga berasal dari Semarang.   

Bola Raksasa Tanda Penyambutan Asian Games 2018
Walaupun tidak diselenggarakan di Semarang, tapi antusiasme masyarakat Jateng menyambut Asian Games ini begitu terlihat. Gegap gempita Asian Games 2018 yang akan datang sebentar lagi disambut dengan sebuah bola raksasa yang diarak keliling Kota Semarang. Bola berdiameter 3,5 meter itu pun menjadi pemandangan menarik masyarakat Kota Semarang yang memadati area CFD di kawasan Simpang Lima Semarang, termasuk kami pengguna jalan yang lewat.
Antusias Sedulur Semarang Mendukung Asian Games 2018
(Foto: https://sports.okezone.com/)
Hari Minggu (8/7/2018), kegiatan yang digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga itu semakin meriah dengan iringan Marching Band Akademi Kepolisian. Bola diarak dari halaman Mapolda Jateng menuju Lapangan Pancasila Simpang Lima. Kawasan pusat Kota Semarang itu juga sedang dipenuhi masyarakat yang mengikuti Pesta Rakyat dalam rangka HUT ke-72 Polri.
Sedulur Semarang Mengarak Bola Raksasa di Area CFD Simpang Lima
(Foto: https://sports.okezone.com/)
Selamat Bertanding, Kami Padamu!
'Sukses untuk Asian Games 2018', 'Selamat Bertanding, Kami Padamu'
Begitulah yang tertulis jelas di spanduk putih sepanjang 30an meter.
Tidak hanya arakan bola raksasa saja, masyarakat yang tengah menikmati kegiatan Car Free Day juga mendukung ajang olahraga bergengsi ini dengan menuliskan kalimat semangat. Pun tidak hanya sebatas kalimat tersebut, aksi tanda tangan oleh masyarakat turut dibubuhkan pada kain yang dibentangkan di sepanjang Jalan Pahlawan arah Simpang Lima. Ramainya masyarakat yang antusias dalam acara ini merupakan bentuk kepedulian untuk Indonesia sebagai tuan rumah setelah sekian puluh tahun lamanya. 
CFD Semarang: Sukses untuk Asian Games 2018, Selamat Bertanding, Kami Padamu
Aksi Tanda Tangan Untuk Pertandingan Atlet Asian Games 
(Foto: http://jateng.tribunnews.com/)
Usut punya usut, ternyata nantinya bola berukuran besar yang menggelinding dan spanduk ini akan dibawa ke Jakarta dan ditunjukkan di sana untuk memberikan dukungan bersama dari Kota Semarang menyemarakkan Asian Games 2018 sekaligus ajang kebangkitan olahraga di Indonesia.

Kemeriahan Asian Games juga terasa kental. Di mana-mana terlihat banyak poster dan banner bergambar logo dan maskot Asian Games: di bandara dan juga di stasiun. Logo Asian Games 2018 yang terinspirasi dari bentuk Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menggambarkan Energy of Asia. Busur warna-warninya mewakili keberagaman budaya di Indonesia dan Asia.
Hasil gambar untuk logo asian games di bandara ahmad yani
Logo Asian Games di Bandara Ahmad Yani Semarang
(Foto: http://www.jatengpos.com)
Ya, antusiasme ini tak hanya dirasakan oleh warga Palembang dan Jakarta, wong Jateng juga antusias!
Kami Sedulur Semarang berharap kegiatan Asian Games 2018 berjalan lancar dan sukses, ayo kita dukung bersama agar harapan untuk atlet Indonesia bisa terwujud!



Selamat Bertanding, Kami Padamu
Tertanda,
Sedulur dari Semarang



Sumber pendukung: 
http://jateng.tribunnews.com/
http://www.semarangcoret.com

Rabu, 27 Juni 2018

Kapan saya menulis?

Jika ada hal yang hanya bisa saya lakukan sendiri, 
maka menulis yang bisa menemani segala

Pernah, suara orang-orang terlalu riuh untuk saya dengarkan, namun tidak satupun mau mendengarkan. Pernah juga, apa kata saya berbeda dari kebanyakan orang, lalu menuntut keadaan untuk menjadi sama, maka yang bisa saya lakukan adalah menulis.

Pernah, ada duka tentang sebuah kehilangan, namun terima kasih belum sempat diucapkan, dan saya hanya bisa menulis.

Pernah, saya berada pada sesuatu yang paling jauh jaraknya. Saat ada ketakutan tidak beralasan yang pelan-pelan berubah menjadi keraguan pada Tuhan, namun sulit untuk diceritakan, maka saya menulis.

Jika gelisah mendiami pikiran tanpa memberi bebas sedikit saja, atau ada kecewa yang sudah dihapus namun masih menyisakan, saya hanya bisa menulis.

Jika ada lelah dan kerja keras yang kata orang terlalu biasa,
Jika mimpi dan cita-cita dirasa konyol untuk didengarkan,

Atau jika ekspektasi dengan sengaja mematikan harapan, maka yang benar-benar bisa mengobatinya adalah menulis. 

Jika sebuah pulang masih menjadi ingin, saya pun menulis.

Dan, kalau ingin cepat lulus, saya juga harus menulis hmm skripsi. 

Menulis bagi saya adalah perihal membebaskan dan memulihkan. Menulis bukan sekedar menceritakan apa yang tidak ingin orang lain dengarkan, tapi menulis adalah cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Di saat keadaan belum bisa menerima, menulis justru memberi lega, sebuah bentuk ekspresi yang mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
Tidak melulu hanya soal negosiasi, menulis membuat saya ingin mencari tahu banyak hal. Menelusuri ini-itu tanpa harus diatur orang lain, juga menemukan sesuatu yang baru tanpa perlu melakukan perjalanan.

Karena kata Helvy Tiana Rosa, menulis adalah perjuangan yang paling sunyi, sebab kau benar-benar sendiri dan bergumul dengan segala

Itu adalah saat-saat saya ingin menulis, kalau kamu? 


Jumat, 08 Juni 2018

Menjadi Sore

Hari ini, di salah satu sudut di Kota Semarang, saat benar-benar mengamati hiruk pikuk jalanan sejak pukul 16.00-18.00, ada satu hal yang menarik perhatian. Dalam suasana ibadah puasa, deru mesin kendaraan lebih mendominasi daripada hari biasa. Ada yang beringasan karena dikira punya hak penuh di jalan, ada yang tidak peduli karena ingin didahulukan, ada yang berusaha menahan sabar walau manusia-manusia ini berhamburan, namun ada pula yang tidak geram meski kadang sebahagian seenaknya memperlakukan. 
(In frame: Azwad)
Saya paham kalau semua kepentingan tidak bisa disamakan, tapi yang pasti itu semua terjadi adalah karena ingin merayakan sore.
Entah bagaimana riuhnya jalanan di kota, tapi sore menjadi alasan agar ada jeda untuk rutinitas yang melelahkan.

Dan saya ingin menjadi sore, tidak peduli apa yang telah terjadi hari itu, tapi yang saya tau selalu ada  rona merah merekah atau oranye bahagia sebelum malam tiba.
Dan saya ingin menjadi sore, supaya tau kapan saatnya sudah cukup. Biar selalu ada kesempatan untuk merenung, namun bukan untuk redup.  
Dan saya ingin menjadi sore, entah selelah apa kerja dari pagi, tapi selalu ada waktu untuk berhenti.

Karena sore hadir untuk mengingatkan, bahwa semua yang dimulai selalu ada saatnya untuk diakhiri. Ia ada supaya keluh di dada berujung, biar kerja keras tidak berakhir peluh hanya karena rencana semesta belum sesuai dengan keinginan kita.  

Dari yang baru saja menikmati sore di Kota Semarang, 
-OS-

Senin, 28 Mei 2018

Semua adalah tentang perspektif

Gambar terkait
Gambar terkait
Foto 1 dan 2 sama saja, keduanya hanya tentang perspektif
We live for a cause, not applause. Cause life is completion, not competition - Meira Anastasia
Melihat progress skripsi yang sepertinya masih ‘disitu-situ’ saja, saya mulai berpikir. Tidak berhenti, tapi kenapa tidak juga terlihat maju?
Kalau mau mengeluhkan lokasi survei yang jauh, toh masih banyak yang lebih jauh tapi baik-baik saja.
Kalau mau mengeluhkan responden yang harus mengatur waktu terlebih dahulu jika ingin bertemu, malah ada di luar sana yang –jangankan memenuhi sampel- mendapatkan 1 responden pun sudah bahagia. Kalau mau mengeluhkan substansi yang rumit, masih ada lagi mereka yang topiknya saja jarang diangkat. Kalau mau mengeluhkan manajemen waktu yang sulit, ada lagi beberapa yang kesusahan membagi waktu dengan keluarga di rumah atau mengerjakan skripsi, belum lagi jika ada job tambahan dan ingin melakoni hobi. Atau kalau mau mengeluhkan dosen penguji, lalu bagaimana dengan mereka yang harus berdamai dengan hati karena dosen pembimbingnya sendiri?
Ingin mengeluh, tapi kok rasanya tidak bersyukur.

Jika sepertinya semua hal yang terjadi belum sesuai dengan keinginan kita, sebenarnya salah siapa?
Ada hal yang kadang tidak kita sadari: ternyata, entah berada di A, B, atau Z, itu sama saja. Memangnya A berbeda tingkat dengan Z? Tidak juga. Ini hanya soal giliran, itu pun jika kita memulainya dari A. Dieja mundur dari Z, tidak berarti Z menjadi yang terakhir, bukan?

Semua adalah tentang perspektif. Tentang bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu, atau terhadap apa yang harus dikejar. Jika temanmu terlihat selangkah lebih maju, bukan berarti kita ada di belakangnya. Bisa jadi, dia punya tuntutan lebih besar. Bisa saja, dia masih harus menyelesaikan ini dan itu. Bisa jadi, dia sudah lebih dulu mengalami apa yang kita alami saat ini. Bisa saja, sekarang belum waktu kita, namun pada akhirnya akan beres tanpa babibubebo. Siapa yang tahu?

Lagipula, hal-hal seperti wisuda, dapat kerja, menikah, dan seterusnya bukan merupakan pencapaian yang dibandingkan. Buat apa mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita?

Jadi percaya saja, selama kita tidak pernah berhenti, tidak ada yang salah dengan apa yang sedang kita selesaikan. Persoalannya hanya pada waktu. Kalau orang lain sudah mencapai A, mungkin saja nanti dengan rencana semesta, kita sudah berada di D, E, X, atau Y. Siapa yang tahu?



Dari yang sedang menjalani survei, tapi tidak kunjung usai
OS


Diberdayakan oleh Blogger.