Senin, 20 Agustus 2018

Yang sering kau abaikan


Hal-hal yang sering diabaikan tapi tidak pernah bosan hadir setiap sore
Kata Pendeta tadi pagi, kita minimal 300 kali mengambil keputusan dalam sehari. Jika itu adalah jumlah minimal, maka saya tidak tahu berapa banyak pertimbangan yang kau lakukan setiap setelah bangun tidur sampai tidur lagi. Meski begitu sering, tapi kau sering kali mengabaikan saya tanpa mengikutsertakannya dalam setiap keputusanmu.
Apa?
Saya sudah tidak begitu penting lagi sekarang?

Coba saja kalau keadaan begitu rumit, kau datang semaumu. Jika semua dirasa baik-baik saja, kau mulai berbuat seenaknya. Saya sudah hapal tabiatmu, dikala dunia berantakan namun finansialmu baik atau kau belum berada di ujung batas aman, maka urusan orang bukan lagi jadi urusanmu. Maka kau mulai bersandar pada pengertianmu sendiri, tanpa peduli apa sebaiknya yang mesti dilakukan.
Kalau kau sudah menemukan hal-hal yang sifatnya sesaat, maka saya pasti akan jadi yang pertama kau abaikan. Kau tidak lagi ada perhitungan saat bertindak, tidak lagi menimbang-nimbang apa yang harus menjadi prioritas.
Tapi ketahuilah, saya selalu siap untuk ada di sampingmu di saat kapanpun kau butuh. Karena saya tahu, saya harus ada di hidupmu agar supaya kau tidak salah melangkah. Agar supaya 300 keputusan yang paling tidak kau ambil dalam sehari terencana dengan baik, termasuk melawan ngantuk dan malas, lalai, juga menghindari pengalihan fokus.




Tertanda,
Dari yang sering kau abaikan: Hikmat




Selasa, 14 Agustus 2018

Pelaku Utama dan Penyederhana Diksi

Seperti legenda kebanyakan, maka ini adalah sebuah cerita asal-usul yang ingin saya tuliskan 
Orang-orang terdekat mengenal saya dengan OS. Selain merupakan singkatan dari Onixtin Sianturi, OS memiliki arti Operating System. Memilih inisial OS tentu dengan alasan.

Diambil dari wikipedia, OS atau sistem operasi (dalam bahasa) berarti perangkat lunak sistem yang mengatur sumber daya dari perangkat keras dan perangkat lunak untuk program komputer. Tanpa sistem operasi, pengguna tidak dapat menjalankan program aplikasi pada komputer, kecuali program booting.

Sederhananya, Operating System (OS) adalah pelaku utama dalam program aplikasi.
Begitu pula dengan Onixtin Sianturi (OS) yang juga ingin menjadi pelaku utama dalam cerita perjalanan hidupnya sendiri.

Saya selalu butuh ruang untuk menuangkan imajinasi, perspektif, atau opini, tanpa diatur dan mengikuti aturan manapun. Maka terbentuklah sebuah rumah bernama onix-octarina.blogspot.co.id tahun 2013 dengan halamannya yang usang dan penuh rumput bahkan hingga kini ketika namanya pun sudah berubah menjadi onixoctarina.com. Blog ini masih sama, tidak terurus namun penghuni di dalamnya tetap ada. Tidak peduli apakah ada tamu yang berkunjung secara cuma-cuma lalu pergi atau ada pembaca setia tanpa diminta, blog ini selalu menjadi rumah bagi saya. Ia menjadi tempat bercerita, penerima sukacita, sekaligus pengawas rutinitas seperti peliput berita. Ia mau menjadi pendengar keluh kesah tanpa menghakimi seperti orang-orang di luar sana, hingga tidak enggan saya menyebutnya sebagai pulang. 
Ada 3 tajuk yang paling sering saya bahas di rumah ini: heart talks, weekend escape, dan writing competition.

Writing competition saya pilih menjadi halaman depan dan teras. Lebih banyak mengulas sesuatu dengan tema tertentu yang diadakan oleh pihak manapun. Dengan alasan supaya produktif, maka halaman ini sengaja saya buat. Selama bisa diikutkan, kenapa tidak dicoba? Karena saya percaya kata Ariev Rahman, teruslah menulis sampai kau tidak tau kemana tulisan itu akan membawamu. Memang tidak satu-dua-tiga kali saya memperoleh hasil dari tulisan-tulisan itu. Namun ada yang paling saya ingat, untuk kali pertama, saya menginjakkan kaki di Labuan Bajo karena sebuah tulisan dan candu setelahnya.

Memasuki lebih dalam, Weekend escape adalah ruang tamu. Kalau beruntung, siapapun pembacanya juga bisa tiba di ruang keluarga. Ini adalah tempat saya bercerita dikala membutuhkan ruang untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kota dan kebisingan sosial. Selalu tentang perjalanan, akhir pekan rasanya menjadi waktu yang pas untuk menemukan hal baru dan berhenti dari rutinitas senin sampai jumat. Maka saya menamainya Weekend escape, biar ada kesempatan untuk menepi dari istilah harus begitu dan begini. Ini juga adalah cerita pertama kali saya keluar dari zona nyaman.

Sedangkan Heart talks adalah tempat yang saya anggap sebagai ruang kamar. Corat-coret dalam hidup saya yang tentu tidak setiap saat mujur, tapi selalu terselip kata bahagia walau kecil porsinya. Heart talks adalah saat-saat saya membuat pernyataan yang mengalir begitu saja, biasanya tulisan-tulisan semacam ini memiliki energi tertentu. Jika sedang kalut, maka rasa dalam tulisan itu juga demikian. Jika mengalami ketakutan tidak beralasan, kejenuhan juga penat, rasa bersalah yang hebat, kecewa dan sedih yang melebur bersama atau bahagia yang sederhana, maka bisa dipastikan itu ditulis di atas kejujuran. Bisa sedang menangis, bangga, atau malah marah saat menuturkannya. Bahkan ketika dibaca berulang besok, lusa, dan besoknya lagi, atau tahun depan, saya masih bisa merasakan kalau energi itu nyata.

Dengan mengandalkan ‘kata-kata’, sebagian besar kalimat dalam kamar saya adalah diksi yang disederhanakan. Saya ingin agar orang-orang mengetahui bahwa menuliskan sesuatu dengan diksi tidak selalu karena galau. Saya ingin agar orang-orang bisa menikmati diksi tanpa harus mendayu-dayu hingga tidak mengerti apa artinya. Saya ingin mengelola emosi dengan cara mengumpulkan kosakata. Saya juga ingin memilihkan kata yang tepat untuk mewakili sebuah gagasan atau kondisi. 

Meski ‘bebas’, saya tidak berbuat ‘semau’ saya. Namun tetap berkiblat pada KBBI dan EYD. Karena hidup bebas itu diperbolehkan dan dibutuhkan, tapi tidak asal-asalan. Hal kecil seperti salah ketik atau membedakan ‘Di’ sebagai preposisi dan ‘Di’ untuk prefiks saja disepelekan, apalagi ingin memahami yang lebih rumit semacam apa yang aku mau dan apa yang kau mau? (Fiersa Besari).
Tapi-tapi, kalau kalian menemukan kesalahan itu, tolong cepat beritahu saya! Hahaha!

Ketika menulis di 3 ruang dalam rumah ini, saya selalu butuh ruang sendiri untuk menata atau membiarkannya berantakan, dengan melepas jam tangan dan tanpa menyetel lagu. Saat-saat sedang mendung, senja, dini hari, atau di ruangan sepi, adalah waktu yang pas agar saya bisa bebas berkata apapun dan melihat jari ini saling beradu di keyboard laptop.
Maaf, suka tidak suka dengan tulisan yang terbaca, tidak menjadi urusan saya. Karena saya menulis bukan untuk orang lain, tapi diri sendiri. Ketika begitu banyak suara berseliweran yang harus didengarkan, saya memilih menuliskannya.

Meski sering kali menuliskan banyak hal dalam blog ini, tapi ketahui saja, pembaca hanya mengetahui 1% dari hidup saya. 99% lainnya kemana? Ada di dapur. Masih saya sekat sebagai kehidupan pribadi yang tidak perlu diumbar pada orang lain. Alasan utamanya adalah karena saya introvert. Bukan, bukan artinya tertutup atau pemalu, tapi saya lebih memilih menceritakan lebih detail pada orang-orang terdekat dan bisa saya percaya. Memang sudah saya anggap sebagai rumah, namun blog ini masih konsumsi publik, maka tolong pahami. 
Jadi, jika yang kalian baca rasanya seperti mengenal saya, maka itu hanya 1%nya saja. Tidak mengapa, 1 adalah angka pelengkap dari 99 lainnya yang sering kali berguna untuk menyempurnakan.  

Saya memang tidak mengundang tamu untuk berkunjung, jadi jika ada komentar di kolom itu rasanya adalah yang paling bahagia. Jika ingin berkomentar silakan, namun jika hanya ingin menjadi pembaca saja juga tidak masalah. Saya tidak memaksa, toh kalian tidak pernah menuntut agar rumah yang halamannya masih banyak rumput liar ini dibersihkan secepatnya. HAHAHA.



Salam,
OS (sang pelaku utama dan si penyederhana diksi)





Jumat, 10 Agustus 2018

Waktu Tuhan bukan waktu kita


Selamat sudah menjadi yang pertama wisuda, Ndoro Bdari!
Saya bangga!
Waktu Tuhan bukan waktu kita,

Jangan sesali keadaannya,

Untuk semua ada waktu Tuhan,

Semua kan indah pada waktunya.

Lirik lagu di atas rasanya pas menjadi bahan untuk digodok bersama apa yang baru dirayakan minggu ini. Wisuda. Ya, saya turut berbangga bagi mereka 7 rekan sarjana planologi yang sudah mengenakan toga tadi pagi.

Untuk kalian yang sudah menyandang amanah baru,
Selamat!
Juga terima kasih karena sudah menyebarkan aura positif di Gedung Prof Sudarto. Saya ikut terharu karena kalian sudah melewati proses 6 sks yang panjang itu dengan penuh sabar.

Saya belajar satu hal: tidak ada yang perlu disesali, apalagi pada waktu yang belum saatnya untuk kita lewati. Belum saatnya wisuda tidak berarti akan terlambat pada selanjutnya, kan? Toh waktu Tuhan bukan waktu kita J




Salam,
OS



Jumat, 03 Agustus 2018

Kebakaran di Gili Lawa Darat, apa kata travel influencer?

"Instagram itu membunuh lingkungan dan pariwisata" -@raye_brahm
Saya bukan travel blogger, apalagi travel influencer, tapi kok ya topik ini menarik untuk dibahas.

Jadi begini, kemarin pagi secara kebetulan, saya melihat isi stories a.k.a instagram story milik seorang tour guide yang dulu pernah menyiapkan itinerary kami ke Labuan Bajo. Ceritanya, saya dan pemilik akun @akbr_gvns berteman di instagram dan sampai saat ini masih berkomunikasi dengan baik.
Wajar saja jika mas Akbar –sapaan untuknya- sering memposting perjalanan di Labuan Bajo. Salah satu isi stories yang menunjukkan kalau ia turun dari Pulau Padar tanpa menggunakan alas kaki, menarik perhatian. Kemudian dengan spontan, saya repost isi stories mas Akbar ke instagram milik saya.

Pertanyaannya, ngapain repot-repot harus repost?
Saat dulu mendaki Pulau Padar di musim kemarau November tahun lalu, mas Akbar ini juga menemani kami sampai puncak tanpa alas kaki. Tidak terbayangkan di benak saya bagaimana rasanya menapaki anak tangga di Padar yang panasnya kayak mau noyor muka orang, bikin kzl wkwk. Saya lupa berapa tinggi Pulau Padar, tapi yang pasti itu tinggi dan serem kalau tidak hati-hati. Karena kekaguman itu, maka saya repost.
Trek Menuju Pulau Padar
Pulau Padar
Pulau Padar
Lalu, salah seorang teman dari mas Akbar yang juga berteman dengan saya di instagram mengomentari postingan itu, kemudian berlanjut ke topik yang menarik.
Dan saya juga baru tau kalau mereka itu berteman hahaha! Sampai di sini paham? :D
Singkatnya, akun milik @sayariza kemarin sore bilang terjadi kebakaran di Gili Lawa yang katanya karena lalai demi footage dokumentasi.
Gili Lawa Darat
Gili Lawa Darat via shutterstock.com
Gili Lawa Darat via blog/@kadekarini
Gili Lawa adalah salah satu rangkaian pulau di kawasan Taman Nasional Komodo. Jujur saja, saya belum pernah menginjakkan kaki di Gili Lawa, tapi rasanya tidak ada satupun pulau di kawasan ini yang tidak memesona. Bisa disimpulkan kalau Gili Lawa sama ikoniknya dengan Pulau Padar. Jadi, meski belum pernah, setidaknya saya bisa ikut merasakan bagaimana mirisnya salah satu savana yang cantik kebanggaan alam hangus tanpa sisa.  
Entah punya nama atau tidak, hampir semua bukit di kawasan TN Komodo punya pesona masing-masing
Satwa Gili Lawa Darat
Satwa Gili Lawa Darat via instagram/@jovitakolin
Dilansir dari akun resmi @komodo_national_park, kebakaran awalnya diduga dari puntung rokok yang disebabkan oleh pengunjung di puncak Gili Lawa. Namun, beredar kabar jika pulau cantik di Manggarai Barat ini terbakar karena kebutuhan properti foto prewedding akibat menyalakan kembang api (via liputan6.com).
Menariknya adalah, dari beberapa hasil pemeriksaan sementara, diduga penumpang kapal dari sebuah agensi travel ternama adalah pelaku penyebab terjadinya kebakaran. Siapa yang tidak tau Indonesia Juara Trip dengan owner Agung Afif? Yang juga sebagai travel influencer, Agung menanggapi berita itu melalui instagram story miliknya, kira-kira begini:
Jadi saya sedang bekerja untuk membuat video di China dan saya dapat berita paling sedih dalam hidup saya dimana ada berita Gili Lawa terbakar diduga salah satu Tour Leader @indonesiajuaratrip yang bertugas lalai dalam menjaga aktifitas tamu dalam berwisata yang akhirnya menyebabkan kebakaran. Saat ini yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan polisis dan masih menunggu keputusan dari pihak kepolisian. Saya sedang tidak berada di Labuan Bajo sehingga tidak tau pasti apa yang terjadi sebenarnya. Berita di lapangan masih simpang siur dan di sini mohon maaf jujur, banyak oknum yang memanfaatkan momentum persaingan bisnis. Ada beberapa berita yang dikonfirmasi tidak benar dan ada yang dilebih-lebihkan. Jadi sampai saat ini kami masih menunggu keputusan kepolisian. Tapi saya pastikan apabila berdasarkan pemeriksaan memang terbukti bersalah, kami selaku pihak perusahaan akan melakukan tindakan keras sampai ke tahap pemecatan dan tentunya akan mengikuti prosedur hukum dan akan bertanggung jawab dengan pihak Taman Nasional Pulau Komodo.

Kelanjutannya bisa cek di sini:
Awalnya, saya sama sekali tidak tau kalau oknum berasal dari agensi tersebut. Setelah melihat langsung postingan @gungafif, saya baru menyadari satu hal. Dari klarifikasi dan konfirmasi Agung menunjukkan kalau tidak ada permintaan maaf akibat kelalaian itu.
Tentu tulisan ini bukan untuk ikut menyulut api yang sedang ramai dibicarakan, tapi sebagai apresiasi pada travel influencer kebanggaan saya yang turut berbelasungkawa atas matinya perasaan para penikmat perjalanan. Kok tega?
Akibat Pengunjung Lalai, 10 Hektar Savana Gili Lawa Darat Hangus Terbakar
Kebakaran di Gili Lawa via instagram/komodo_national_park
Sering mengikuti akun travel influencer, travel blogger, atau pegiat travel seperti @her_journeys, @kadek_arini, @marischkaprue, @amrazing, @arievrahman, @takdos -yang kalau disebutkan satu persatu tidak akan cukup- membuat saya punya pola pikir baru terhadap perjalanan. Bukan cuma perjalanan, tapi juga alam sebagai destinasinya. Pernah berkomunikasi dengan mereka via media sosial, bikin saya berpikir kalau perjalanan itu adalah sesuatu yang layak untuk dibagikan. Mereka, yang dalam tanda kutip sudah pro, sama sekali tidak menciptakan kesan show off pada audience karena sudah berpergian kemana-mana. Justru, pengalaman hidupnya, proses yang mereka lewati, konsistensi, membuat saya semakin ingin menggali diri #eaaaa

Kebakaran di Gili Lawa pada Rabu malam (01/08/2018), ternyata bikin hampir semua pegiat travel ikut menanggapi, apalagi bagi mereka yang sudah pernah ke sana. Ada yang nyinyir, ada yang berkomentar pedas, adapula yang kreatif. Tapi mereka semua turut prihatin dengan kejadian ini. Selamat sudah berhasil jadi infuencer yang berdedikasi ya! Followermu jadi membenamkan mindset yang serupa dengan kalian hahaha! Mari kita ulas apa kata pegiat travel soal ini?
Dari Kak Prue @marischkaprue yang pernah foto cantik sama rusa di Gili L
 

Dari si kreatif Kak Anggey @her_journeys
 


Dari si kritis Koh Alex @amrazing

Dari si pencerita yang baik Kak W @windy_ariestanty

Dari @asokaremadja yang paling update 

Dari @kadekarini yang juga lagi di China

Dan sebagai penutup, dari Bang Adis kebanggaan kita @takdos 
Kalau dipikir-pikir ternyata mereka semua itu sepertemanan HAHAHA! 
Komentar paling menyelentik datang dari @iwwm di kolom komen postingan @indonesiajuaratrip. Meski  kolom tersebut sudah ditutup, dan tidak sempat screen capture, saya masih ingat, kira-kira begini: "Kapal-kapalnya dijual aja sebagai ganti rugi"
Tampaknya esensi perjalanan mulai berubah haluan. Tanpa pikir panjang, apa saja dilakukan demi konten, pun jika resikonya merusak alam. Kenapa saya sebut konten? Rasanya dokumentasi kekinian tidak hanya untuk konsumsi pribadi. Kita ini hanya menumpang pada alam, tapi kenapa masih saja tidak tahu diri? 10 hektar lahan savana terbakar tidak akan pernah sebanding dengan dokumentasi yang entah untuk apa tujuannya. 
Area savana yang biasa menjadi rute trekking tidak dapat lagi dinikmati. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk pemulihan yang akan dilakukan dengan cara suksesi alam. Statusnya sebagai taman nasional, membuat tempat ini tidak boleh terlalu banyak mendapat campur tangan manusia.
it's gonna take years for Gili Lawa to recover from the fire. why humans are such a terrible creature? -@marveltr4sh
Satu referensi bilang kalau benar-benar alami semak baru tumbuh setelah 5 tahunan, karena emang mulai dari lumut, paku apalagi kalau sudah terbakar habis- @Anaphase06

Semoga Gili Lawa lekas sembuh dan masih bisa dinikmati keindahannya di tahun-tahun ke depan. Semoga tindak lanjut terhadap pelaku segera diproses. Semoga tidak ada lagi insiden menyedihkan dan bikin marah banyak kalangan, termasuk Sang pemilik semesta. Semoga saya, kamu, dan kita bisa lebih bijak dengan alam saat melakukan perjalanan. 

Itu dia kompilasi komentar dari travel influencer terkait kebakaran di Gili Lawa Darat, kalau menurut kamu?


Salam hangat dari,
Yang baru saja memaknai perjalanan,
Yang baru saja mengenal alam Indonesia dan jatuh cinta padanya,


OS. 
Diberdayakan oleh Blogger.