Selasa, 22 Mei 2018

Mengagumi langit dengan hati-hati


"Karena sehebat-hebatnya langit, ialah yang paling meneduhkan"- OS
Entah harus terik atau sudah saatnya mendung, langit selalu sedia, ia menerima. Mau sehebat apa angin mengadu domba, atau cahaya matahari berebut celah masuk ke bumi, langit selalu saja ada di sana, ia tidak pernah berubah.
Mau seperti apa burung-burung diudara berbuat sesuka hati, awan-awan berseliweran pergi, atau mesin-mesin pengepul polusi membumbung tinggi lalu mengotori, langit menerimanya.

Saya tidak tahu, apa langit benar tulus meneduhkan tanpa menyanggah apapun? Apa benar ia tidak bersungut-sungut ketika warna biru muda, oranye, hitam pekat, putih bersih, bergilir menempatinya?
Jika saja langit bisa menguak suara, apa iya segala sesuatu yang terjadi padanya masih terus ada? Buktinya badai, terik, petir, kelam, senja, fajar, dingin, malam tidak satu-dua kali menghujani bumi, tapi kita tahu bahwa ia selalu baik-baik saja. Jadi percayalah, walaupun gelap atau hujan melekat, tapi pelangi tidak pernah lupa untuk hadir setelahnya.

Lagipula, menengadah pada siapa, jika derajat tertinggi adalah ia sendiri?
Padanya, saya mengagumi dengan hati-hati. Entah langit yang cerah atau malah marah, ia justru selalu ingin meneduhkan, menaungi kita agar terus nyaman. Tentang baik-buruk peristiwa yang berulang-ulang, langit selalu ada disana.

Darinya, saya belajar:
Karena sebenarnya, hal yang paling sulit dari mengetahui segala sesuatu adalah menerimanya.


Regards,
OS




P.S : Terima kasih untuk Taufik Akbar atas 6 foto langit terakhir karena banyaknya macam-macam warna. Saya makin mengaguminya. 

Sabtu, 12 Mei 2018

Mempertanyakan hal-hal remeh yang sebenarnya adalah ego sendiri

Doa bukan cuma soal transaksi. Ini juga tentang bagaimana kita mengakui: Dia, tidak pernah pergi - www.hipwee.com
Gambar terkait
Apapun yang telah berlalu bisa dilupakan, tapi doa tidak pernah usang
Di malam memperingati 20 tahun reformasi ini, tanpa sengaja saya membaca tentang pelanggaran HAM yang terjadi saat Mei 1998 silam. Kemudian pikiran-pikiran liar mulai mencuat dalam kepala. Bukan hanya soal tragedi, tapi hal-hal lain yang mulai mengganggu.
Saya masih sering kali heran. Jika benar Tuhan mau mendengar, mengapa begitu banyak hati yang kecewa? Jika benar Tuhan selalu memperhatikan, mengapa tidak semua keinginan kita Ia kabulkan? Jika benar Ia tidak pernah meninggalkan, mengapa masih saja ada duka?

Bukan hanya kejadian 12 Mei 1998 saat Rezim Soeharto tinggal menghitung hari menuju keruntuhan dan empat mahasiswa harus mati kena tembak aparat yang kini perlu diperingati. Namun rentetan peristiwa yang baru saja terjadi yang juga menyayat hati, lagi-lagi ada tragedi bulan Mei di negeri ini yang bikin siapa saja bergidik ngeri.

Di minggu yang sama, sebanyak 156 teroris yang ditahan di dalam Rutan Mako Brimob menyandera sembilan polisi. Dari kerusuhan yang berakhir setelah kurang-lebih 36 jam, lima polisi gugur akibat dibacok di bagian leher. Miris? Tidak cukup sampai di situ, esok paginya setelah nara pidana dipindahkan ke Nusa Kambangan, terjadi lagi kejadian pilu. Satu orang polisi ditikam oleh orang tidak dikenal menggunakan pisau beracun saat bertugas di Mako Brimob. Pun polisi tersebut juga tidak terselamatkan setelah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob.
Lagi, saat saya mengikuti ibadah di hari minggu, pendeta mengajak para jemaat untuk mendoakan sebuah kabar duka. Tidak pernah sebegitu merindingnya setelah menerima kabar demikian: telah terjadi ledakan bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya yang menelan sejumlah korban. Naasnya, tragedi ini direncanakan dan dilakukan oleh satu keluarga yang melibatkan anak-anak pula. Surabaya kala itu dalam siaga 1, namun pada malamnya terjadi lagi ledakan di salah satu rusun di Sidoarjo yang diduga berasal dari bom yang masih di rakit. Keesokannya lagi, terjadi serangan bom kendaraan di Polrestabes Surabaya pada jam 08.50 yang juga memakan korban.

Sedih? Mengulas ini saja hati saya masih teriris. Mereka yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak saya kenali, tapi mendoakannya menjadi kesediaan hati yang tidak diminta oleh siapapun. Air mata tidak cukup hanya untuk menangisi kondisi Indonesia yang ironi. Tentu berbelasungkawa. Namun kita juga perlu berdoa.

Dari sana, saya menjadi paham: Tidak ada yang lebih bijak dari keputusanNya.

Pertanyaan-pertanyaan sepele yang tadinya masih ada di dalam kepala membuat saya mengerti, bahwa hidup tidak perlu hitung-hitungan dengan Tuhan. Mempertanyakan hal-hal remeh yang sebenarnya adalah ego sendiri.

Mengapa begitu banyak hati yang kecewa? Karena Ia ingin kita belajar menerima, bukan meragukan rencanaNya yang tidak akan pernah kita ketahui.
Mengapa tidak semua keinginan kita dikabulkan? Supaya kita mengakui kelemahan, dan menganggap bahwa doa bukan sekedar transaksi, atau sederet permintaan yang harus disegerakan. Kalau saja yang didoa langsung diiyakan, bisa-bisa semua manusia besar kepala karena semua harapan sudah diwujudkan.  
Mengapa masih saja ada duka? Agar kita mengakui bahwa Dia tidak pernah pergi, karena Tuhan tidak hanya selalu ada, tapi juga selalu sedia.

Tentang duka, kecewa, ketakutan, kekhawatiran sebenarnya adalah hal-hal yang datang karena kita bukan fokus pada Ia yang sebenar-benarnya memberi kekuatan.
Dan untuk semua hal yang terjadi, kadang-kadang yang perlu kita lakukan adalah menerimanya.



Semoga kita menyadari bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Entah pikiran-pikiran yang salah atau ego dalam diri,
Mari kita sama-sama lekas berbenah selagi esok belum terjadi. 
Warmth Regards,


OS

Jumat, 27 April 2018

Adopsi Inovasi dari Qlapa: Membawa Ide Baru bagi Usaha Kerajinan Ibu Kun


Penelitian untuk Skripsi membawa saya pada fakta baru tentang kekhawatiran akan keberlanjutan Danau Rawapening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Akibat pertumbuhan gulma eceng gondok yang tidak terkendali, pendangkalan yang terjadi menjadi ancaman serius. Sekitar 80% dari permukaan air di Rawapening ditumbuhi tanaman eceng gondok dan 5% tanaman air lain. Bahkan, danau ini tercatat sebagai salah satu dari 15 danau prioritas dalam pengelolaannya di Indonesia. 
Dengan luas yang lebih besar daripada Stadion GBK, Rawapening yang berada di perbatasan antara Kota Salatiga dan Ambarawa berperan sebagai sumber baku air minum, irigasi, perikanan, dan pariwisata.
Rawapening yang ditumbuhi gulma eceng gondok
Dokumentasi pribadi
Namun tidak hanya dari sudut permasalahan saja, eceng gondok juga menyimpan potensi yang besar bagi upaya pengembangan ekonomi masyarakat dengan peningkatan keterampilan dalam pembuatan kerajinan eceng gondok. Hal ini diwujudkan melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbasis rumah yang tersebar di kawasan Lopait, Muncul ataupun kawasan lain di dekat Rawapening.

Setelah kunjungan lapangan oleh dosen pembimbing pada November 2017 lalu, saya menemukan pemanfaatan eceng gondok yang ada saat ini sebagian besar adalah pemanenan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan. Pengepul yang mengumpulkan eceng gondok akan mengeringkannya di sekitar rumah mereka, atau di pinggir rel kereta api atau tepi jalan di depan rumah. UMKM berbasis rumah yang fokus melakukan pembuatan kerajinan dalam bentuk ornamen dalam vas ataupun berbagai wadah, serta furnitur memanfaatkan rumah sebagai tempat produksi dan penjualan kerajinan.

Ibu Kun, penjual sekaligus pembuat kerajinan eceng gondok yang bertempat di tepi jalan raya Semarang-Salatiga menuturkan:
“Kemampuan mengikuti kemauan pasar, disertai kemauan bekerja secara profesional merupakan salah satu kunci untuk bertahan dalam usaha ini”
Terkadang pesanan juga dalam bentuk gambar atau foto, dan beliau mewujudkan ke dalam bentuk karya ataupun produk sesuai yang diinginkan pemesan. 
Adapun tahap pembuatan kerajinan yaitu dari tahap pengambilan eceng gondok di dermaga untuk kemudian dikeringkan. Setelah itu, dibentuk jalinan untuk mempermudah anyaman yang akan dibuat kerajinan handmade eceng gondok. 
Walaupun memberikan dampak positif secara ekonomi bagi masyarakat, usaha rumahan untuk mengolah dan memanfaatkan eceng gondok ini tidak bisa optimal.
Ibu Kun mengeluhkan adanya berbagai resiko dan kekurangan, salah satunya dari faktor Human Capital atau SDM. Kondisi bahwa masih banyaknya eceng gondok basah yang diangkut ke kota lain seperti Yogyakarta dan Pekalongan dibandingkan dengan eceng gondok yang kemudian diolah sendiri di sekitar kawasan Rawapening, menunjukkan kurang mampunya sumber daya manusia setempat untuk memberi nilai tambah. Pengrajin lebih banyak di daerah yang berjarak lebih dari 50 kilometer jauhnya dari sumber bahan baku, sedangkan hanya beberapa orang di sekitar Rawapening yang kemudian bisa mengolah eceng gondok menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi. Padahal eceng gondok diambil seberapapun, akan tetap tersedia dan relatif tidak memerlukan biaya besar. 

Bentuk kerajinan tangan yang ‘itu-itu’ saja ternyata belum sepenuhnya bisa memikat hati pembeli. Apalagi saat ini sedang mencuat soal fashion dan OOTD (Outfit of The Day), sehingga para pemburu barang-barang unik tidak melirik ke usaha rumahan milik Ibu Kun. Belajar untuk hal-hal yang baru dalam menciptakan berbagai inovasi juga perlu dilakukan untuk menyesuaikan kemauan pasar.

Melihat penelitian Skripsi yang akan berlanjut ke depan, saya ingin sekali membantu Ibu Kun memperkaya ide dalam membuat kerajinan tangan eceng gondoknya. Untuk bisa terjun ke ranah nasional, Ibu Kun bisa melalui tahap awal seperti pemasaran menggunakan media digital. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan setidaknya bisa ikut meramaikan fashion style terkini lewat media sosial seperti instagram. 
Saya ingin mendukung Ibu Kun dalam berinovasi melalui situs jual beli online untuk produk handmade paling terkurasi di Indonesia. Yaps, dengan merekomendasikan produk-produk di Qlapa.com, Ibu Kun bisa mempelajari pola membuat kerajinan yang unik sehingga nantinya dapat memperkenalkan usahanya ke publik.
Qlapa.com adalah rumah produk handmade yang original. Qlapa.com memberi kemudahan mencari produk unik dan etnik secara online dan menjadi marketplace yang mewadahi pengrajin lokal No. 1 di Indonesia! Alexa.com melansir bahwa Qlapa.com menduduki ranking ke 1.644 secara nasional. Qlapa.com memberikan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan dalam bertransaksi. Dalam satu genggaman, para online shopper  bisa menemukan produk bernilai untuk berbagai hal: kado, koleksi, dan lifestyle.
Untuk memulainya, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengunduh aplikasi Qlapa.com di smartphone kesayangan.
Download aplikasi Qlapa
Setelah itu, di sore Kota Semarang yang sedang teduh ini, saya mencari produk yang pas untuk jadi best practice dalam usaha Ibu Kun. Pilihan pertama jatuh pada Tas Jinjing Bundar Tali Ata yang sedang kekinian, namun saat melihat-lihat lagi, ternyata ada yang lebih detail produknya karena ada tali dengan panjang 55 cm. Siapa tau Ibu Kun bisa sekalian belajar menganyam tali seperti itu, akhirnya saya berubah haluan pada jenis Tas Jinjing Bundar ini.
Masih belum puas dengan satu contoh produk, hati saya tertambat pada Tas Jinjing Oval Punduk. Karya dari perajin lokal dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat yang ada di Qlapa.com bisa menjadi referensi untuk produk yang unik, beda, dan punya ciri khas. Tentu bukan maksud saya agar Ibu Kun meniru, namun memodifikasi. Dengan menjadikan contoh tersebut sebagai pilot project, saya yakin inovasi bisa kemudian diasah oleh Ibu Kun dan tenaga kerja di tokonya. Tidak masalah kalau pun tahap pembelajaran untuk usaha Ibu Kun terlihat lambat dengan cara ini, lagipula ia tidak pernah berhenti untuk terus mengembangkan usaha, dan kita perlu belajar darinya.
Tentu sangat mudah menemukan produk handmade unik di Indonesia lewat Qlapa.com, yuk simak kemudahan dalam memesan produk di Qlapa berikut ini! 
Graphic design by Onix Octarina
Graphic design by Onix Octarina
Produk sudah dipesan, sekarang tinggal tunggu kedatangannya saja, lalu akan saya antar ke toko Ibu Kun.
Dengan upaya ‘mengadopsi inovasi dari Qlapa’, akan diperoleh peningkatan pendapatan masyarakat sekitar Rawapening, termasuk Ibu Kun. Manfaat lingkungan dengan adanya pemanfaatan eceng gondok yang dilakukan di rumah-rumah dapat berkontribusi dalam mengendalikan pertumbuhan eceng gondok, sehingga tidak mengganggu pasokan air dan justru membantu kesinambungan Rawapening menjadi habitat yang terjaga.

Double impact ya?
Mari kita dukung ekonomi daerah, keunikan pengrajin lokal, dan karya-karya hebat dari produk handmade Indonesia! 

Senin, 23 April 2018

Trip 3D 2N Live on Board di Labuan Bajo: Murah/Mahal?

“Entah sejenak atau waktu yang lama, pada dasarnya kita selalu butuh ruang untuk sebuah jeda” - OS

Semua adalah tentang skripsi. Paket lengkap yang di dalamnya tidak hanya sebuah tulisan ilmiah mahasiswa, tapi juga usaha untuk mengalahkan diri sendiri, melatih kesabaran, melupakan gengsi, memahami attitude, keluar dari zona nyaman, berteman dengan kopi, dan keinginan untuk pantang menyerah.
---
“Kapan sidang, Nix?”
Seorang teman bertanya saat aku sedang mengotak-atik draft proposal di perpustakaan kampus. Aku hanya nyengir dan tidak memberi jawaban.
Baru 15 menit berada dalam fokus, seorang yang lain menghampiri.
“Udah sampe mana, Nix?”
“Sampe capek revisi,” jawabku asal.
Kali kedua ditanya hal yang serupa, aku masih biasa saja. Walaupun sedikit jengkel, namun tidak mengapa. Toh mereka hanya ingin tahu. Namun makin berdiam lama di kursi sudut perpustakan, keberadaanku masih saja kelihatan oleh orang-orang. Entah ingin membuka pembicaraan karena sudah lama tidak bertemu, atau memang hanya sekedar basa-basi.
“Udah halaman berapa? Liat dong,”
Lah wong iki raono attitude opoya, pikirku dalam hati. Aku hanya mengabaikan, namun keingintahuannya yang tidak mendasar ini lama kelamaan bikin geram. “OPOSEH URUS AE SKRIPSIMU DEWE, NGOPO MEH NGURUS SKRIPSINE WONG LIYO, HAH?”
“Nix, oi. Kok diem?” tanyanya lagi.
Aku hanya bisa menatapnya dalam, berharap suara-suara yang tadi menggebu dari hati bisa terdengar. Namun ia berusaha melihat page di layar laptop yang sudah aku tutup 30 derajat.
Kekeuh amat ni bocah.
“Apaansih.” Aku memberanikan diri.
---

Cuplikan cerita soal skripsi yang saat ini tengah aku jalani sebenarnya belum begitu menjenuhkan, namun kadang kala, pertanyaan-pertanyaan sepele dari orang-orang membuatku membutuhkan ruang untuk memahami diri sendiri. Apa ini yang disebut jeda sejenak atau untuk waktu yang lama?  
Memikirkan sebuah jeda, saya sepakat dengan sekte sabtu-minggu-dan tanggal merah adalah kebahagiaan yang hakiki. Karena dari sanalah, kita –para-penjenuh-rutinitas bisa menyegarkan pikiran kembali.  Apalagi jika hari-hari kosong itu diisi dengan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kota dan gadget yang bisa ditemukan lewat Live on Board seperti ini: 
Berkesempatan menjadi salah satu pemenang lomba menulis yang diadakan oleh Insto, cerita singkat ini dimulai. Pengalaman pertama kali Live on Board yang worth it dan sampai saat ini masih tersimpan dalam memori adalah saat menjelajahi Labuan Bajo pada 23-25 November 2017 lalu. Jujur, 3D 2N berada di atas kapal bersama teman-teman yang baru di kenal menjadi sebuah pilihan yang pas untuk jeda dalam rutinitas.
Berikut itinerary selama 3D 2N saat itu yang bisa jadi referensi:


Day- 1

Day- 2


Day- 3









Melihat rencana perjalanan dan kehidupan selama di kapal, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul namun sudah aku siapkan. CEK-CEK!
Bagaimana rasanya hidup di atas kapal berhari-hari?
Tentu jika tidak biasa akan merasa mual dan pusing. Namun itu hanya pada awalnya saja, di hari kedua dan seterusnya, kita akan terbiasa dengan kondisi kapal: baik saat melaju, maupun berhenti di malam hari.
Apakah ada listrik, air bersih, dan makanan yang cukup selama di sana?
Jangan khawatir! Sekarang paket Live on Board sudah banyak pilihan dengan menyediakan berbagai fasilitas. Kita cukup menyiapkan diri saja, sahabat~
Apa bisa mencuci dan menjemur pakaian di atas kapal?
Kalau hanya menjemur pakaian renang ala kadarnya ya tentu bisa. Neng, di kapal bukan buat hidup selamanya, kan?
Berapa biaya Live on Board Labuan Bajo?  
Kebetulan sekali, pada saat itu trip gratis hehe. Tapi aku sudah tanya ke tour guide yang baik hati: Mas Akbar. Untuk 3D 2N harganya:
2,5 Jt/pax untuk fasilitas AC
2,1 Jt/pax untuk fasilitas kipas angin.
Dan paket trip minimal untuk 8 orang.
Apa dengan nominal harga itu sudah include fasilitas-fasilitas yang worth it?
            Tentu saja! Yang tidak disediakan oleh pihak tour travel adalah jodoh~ hahaha!
            Perlu dinotice, paket trip tidak termasuk biaya tiket pesawat ya.   
Apa ada hari untuk menginap di hotel/penginapan?
            Ya enggaklah! Sist, ini kan namanya Live on Board. Beda cerita kalo live on hotel bintang 5.
Apakah harga tersebut mutlak?
Harga bisa berubah kapan saja, tergantung kondisi. Untuk biaya trip ini diupdate sejak Desember 2017.

Jika ingin menanyakan lebih lanjut apakah bisa request itineray, menu makanan, dokumentasi (foto maupun video drone), bisa langsung ditanyakan pada tour guide yang friendly satu ini! Langsung cek instagram doi: @akbr_gvns.
Mudah-mudahan setelah ini kita –para-penjenuh-rutinitas punya kesempatan untuk mengambil jeda ya. Semoga bermanfaat!
Tour guide kita sedang menjelaskan

Sebuah kiriman dibagikan oleh Akbar gunawan (@akbr_gvns) pada

Diberdayakan oleh Blogger.